Rabu, 25 September 2019


BELAJAR DARI TSABIT BIN AQRAM*
 
Dalam perang Mu’tah yang terjadi pada bulan Jumadal  Ula tahun 8 H Rasulullah saw berpesan kepada pasukan kaum muslimin :  “  Yang bertindak sebagai amir (panglima perang) adalah Zaid bin  Haritsah. Jika Zaid gugur,  Ja’far bin Abu Thalib penggantinya.  Bila Ja’far gugur, Abdullah bin Rawahah penggantinya. Jika Abdullah bin Rawahah gugur, hendaklah kaum Muslimin memilih penggantinya.”

Dalam pertempuran itu tiga panglima perang  yang ditunjuk  Rasulullah saw  gugur satu  demi satu. Setelah gugurnya ketiga panglima perang  tersebut seorang sahabat bernama Tsabit  bin Aqram al-Anshary mengambil panji pasukan. Beliau mengambil panji itu bukan  untuk dirinya dalam arti beliau memposisikan dirinya  sebagai panglima perang, tetapi untuk diberikan kepada orang yang punya  kapasitas sebagai panglima perang. Oleh karena  itu setelah  mengambil panji itu beliau berkata :  “Wahai kaum muslimin, tunjuklah salah seorang di antara kalian (untuk jadi pemimpin).” Sekalipun para sahabat menunjuknya, tetapi beliau menolaknya.  Akhirnya  para sahabat memilih Khalid bin Walid.

Penolakan Tsabit terhadap kepemimpinan ini sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad al-Ghazaly dalam kitabnya Fiqh as-Sirah bukan karena lari dari kematian, tetapi karena ia merasa bahwa dalam pasukan ada orang yang lebih mumpuni dari pada beliau. Dan beliau mengambil panji itu karena  khawatir dalam keadaan sulit ini jika panji itu dibiarkan tidak  diambil  menjadi  pertanda  turunnya keberanian pasukan secara drastis.

Dari sekelumit kisah di atas kita mendapatkan pelajaran bahwa kepemimpinan bukanlah masalah peluang, senioritas, apalagi masalah ambisi pribadi; akan tetapi kepemimpinan adalah masalah kapasitas atau kemampuan. Kalau Tsabit seorang ambisius, beliau jadi panglima perang waktu itu. Panji atau bendera sudah ada di tangannya. Beliau termasuk senior dari  kalangan Anshar karena pernah ikut  dalam perang Badar,  sedangkan veteran perang Badar punya posisi tersendiri bagi Rasulullah  saw. Kondisinya sangat mendukung karena  pada waktu dalam kondisi yang sulit. Begitu juga para sahabat  sudah menunjuknya.  Namun karena merasa tidak layak untuk  memikul jabatan sebagai  panglima perang waktu itu, beliau pun menolak ketika para sahabat menunjuknya dan mengembalikan kepemimpinan kepada musyawarah pasukan. Akhirnya pasukan pun menunjuk Khalid bin Walid  yang  dipandang mampu memimpin pasukan, padahal dari  sisi senioritas  jauh di  bawah Tsabit bin  Aqram,  karena Khalid bin  Walid baru masuk Islam empat bulan yang lalu. Oleh karena itu Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya Fiqh as-Sirah mendambakan adanya orang-orang seperti Tsabit bin Aqram, beliau mengatakan :  “Aduhai, seandainya setiap  orang tahu kadar kemampuan orang lain dan memposisikan mereka pada posisi yang semestinya, niscaya  umat  ini tidak akan menanggung beban dari kelemahan dan ambisinya.” Yang tidak kalah pentingnya dalam masalah ini adalah  kepemimpinan diberikan atau didapatkan setelah proses musyawarah sebagai realisasi dari pedoman al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam.

MENGIMANI WUJUD ALLAH


1.     Pengantar

a.      Pengertian Iman
Menurut bahasa iman berarti   التًّصْدِيْقُ الْجَازِمُ / kepercayaan/keyakinan yang kokoh.
 Menurut Terminologi Syari’at Islam iman adalah :
التَصْدِيْقُ بِالْقَلْبِ ، وَالإقْرَارُ بِاللِسَانِ ، وَالْعَمَلُ بِالأَرْكَانِ .
Mempercayai/meyakini dengan hati, mengakui dengan lisan, dan melaksanakan dengan anggota badan.
            Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa  iman adalah keyakinan yang melekat kuat dalam hati, diikrarkan oleh penganutnya dengan lisannya dan dibuktikan dengan amal dan perbuatannya sesuai dengan tuntutan aqidah.
            Keyakinan yang melekat dalam hati, tapi tidak ada wujudnya dalam amal nyata adalah keimanan yang kosong, tidak pantas dikatakan iman. Kita banyak melihat orang yang mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, tetapi mereka tidak membentuk kehidupan mereka sesuai dengan kebenaran yang mereka ketahui, bahkan kadang-kadang menentang dan memerangi kebenaran yang mereka yakini. Orang semacam ini adalah seperti Iblis yang mengetahui Allah, mengetahui kebenaran para Rasul dan kitab-kitab-Nya yang dibawanya, tetapi dia berjanji untuk memerangi kebenaran yang diketahuinya. Fir’aun meyakini bahwa mukjizat yang dibawa nabi Musa as. adalah bersumber dari Allah, tetapi dia mengingkari dan menentangnya karena kesombongannya (QS. an-Naml/27 : 14). Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa Muhammad saw. adalah seorang Nabi dan Rasul  Allah, tetapi mereka tidak mengakuinya. Begitu juga Abu Thalib, mengetahui bahwa agama yang dibawa keponakannya Nabi Muhammad saw. adalah agama yang paling baik, tetapi dia tidak beriman karena takut dicela kaumnya.
            Jadi Iman adalah bukan hanya sekedar mengetahui atau mengenal Allah, tetapi Iman ialah keyakinan atau aqidah yang melekat pada hati penganutnya, diikrarkan dan dinyatakan oleh lidahnya dan dia rela diatur dan dibentuk oleh pedoman Allah. Dalam hal ini  Allah berfirman :
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِى سَبِيْلِ اللهِ ، أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka bejihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujurat/49 : 15)
           
sebagaimana disebutkan Rasulullah saw. dalam haditsnya yang terkenal dengan hadits Jibril :

الاِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ ، وَمَلاَئِكَتِهِ ، وَكُتُبِهِ ، وَرُسُلِهِ ، وَالْيَوْمِ الأَخِرِ ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ (رواه مسلم).
            “Iman itu adalah bahwa engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan engkau beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk”. (HR. Muslim).

b.      Rukun Iman

Ada beberapa hal yang harus diimani setiap  muslim, yaitu yang terkandung dalam rukun iman atau pokok-pokok keimanan.  Rukun iman tersebut adalah :
1)       Iman kepada Allah
2)       Iman kepada Malaikat
3)       Iman kepada kitab-kita Allah.
4)       Iman kepada Para Rasul.
5)       Iman kepada HariAkhir.
6)       Iman kepada qadar (ketentuan Allah) baik dan buruknya.

Rukun iman ini disebutkan dalam al-Qur’an, antara lain :
لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…(QS. Al-Baqarah : 177)

Disebutkan juga dalam hadits :
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “  (HR. Muslim)

c.       Pengertian Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kokoh bahwa Allah itu ada, Esa tidak ada sekutu bagi-Nya; Dia Rabb segala sesuatu, pencipta dan pengendalinya; hanya Dia-lah yang berhak diibadahi dan ditaati; memiliki sifat kesempurnaan dan jauh dari sifat kekurangan.
Iman kepada Allah swt mengandung 4 hal :
1)      Mengimani Wujud (Adanya) Allah
2)      Mengimani Rububiyyah Allah
3)      Mengimani Uluhiyyah Allah
4)      Mengimani Asma’ Dan Sifat Allah

2.      Pengertian Mengimani Wujud Alllah

Berikut ini akan dijelaskan unsur pertama dari iman kepada Allah, yaitu mengimani wujud (adanya) Allah.
Seorang mukmin harus meyakini benar bahwa Allah itu mawjud  (ada) sekalipun ia tidak dapat melihat dan  tidak dapat mendengarnya,  karena sesuatu yang ada tidak mesti dapat dilihat dan didengar. Dalam kehidupan dunia,  banyak yang kita yakini adanya padahal kita tidak dapat melihat dan tidak mendengarnya, seperti angin, arus listrik, magnit, dan sebagainya. Selain dilihat dan didengar, adanya sesuatu juga bisa diketahui dengan adanya pengaruh atau bekas sesuatu itu, contohnya nyalanya lampu sebagi pengaruh adanya arus listrik. Jadi nyalanya lampu itu merupakan bukti bahwa arus listrik itu ada. Begitu juga adanya Allah bisa diketahui dengan adanya bukti-bukti atau dalil-dalil.

3.      Dalil (Bukti) Wujud (adanya) Allah

Paling tidak ada empat bukti (dalil) yang menunjukkan adanya Allah : bukti fitrah, akal, syara, dan indera, berikut akan dijelaskan satu persatu.

1)      Bukti Fitrah
           
Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fitrah ini, kecuali  orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang dapat memalingkannya. Fitrah ini merupakan pembawaan manusia sejak lahir, sebab ketika manusia berada di alam rahim, ia mengakui Allah sebagi rabb (Tuhan)nya. Allah SWT berfirman :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al-A'raf : 172)
Ayat ini sesuai denga sabda Rasulullah saw.  :  
              
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang                   menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi( HR. Al Bukhari )

2)   Bukti Akal

Bukti akal tentang  wujud Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa semua makhluk yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin pula tercipta secara kebetulan. Tidak mungkin wujud itu ada dengan sendirinya, karena segala sesuatu tidak akan dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebelum wujudnya tampak, berarti tidak ada.
Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk-makhluk itu di atas undang-undang yang indah, tersusun rapi, dan saling terkait dengan erat antara sebab musababnya dan antara alam semesta satu sama lainnya. Semua itu sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena setiap sesuatu yang ada  secara kebetulan, pada awalnya pasti tidak teratur.
Kalau makhluk tidak dapat menciptakan diri sendiri, dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb semesta alam.         Allah SWT menyebutkan dalil aqli dan dalil qath`i dalam surat Ath-Thuur  :
أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan ( diri mereka  sendiri )?” (QS : Ath-Thuur/52 : 35 )
Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah SWT.

Ketika Jubair bin Muth`im mendengar dari Rasulullah yang tengah membaca surat Ath-Thuur dan sampai ke ayat ayat ini  :
أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا۟ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِندَهُمْ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ ٱلْمُصَۣيْطِرُونَ (37)
  “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ,ataukah mereka yang menciptakan       ( diri mereka sendiri )? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu ?. Sebenarnya mereka tidak meyakini ( apa yang mereka katakan ). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu atau mereka yang berkuasa?” (QS. Ath-Thuur/52 : 35-37 ),  ia yang tatkala itu masih musyrik berkata , “hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku.”(HR.Al Bukhari) 
Dalam hal ini kami ingin memberikan satu contoh. Kalau ada seorang berkata kepada anda tentang istana yang dibangun, yang dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan karpet, dan dihiasi dengan berbagai hiasan pokok dan penyempurna, lalu orang itu mengatakan kepada anda bahwa istana dengan segala kesempurnaannya ini tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta, pasti anda tidak akan mempercayainya, dan menganggap perkataan itu dusta dan dungu. Kini kami bertanya kepada anda, masih mungkinkah alam semesta yang luas ini beserta apa-apa yang ada di dalamnya tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?! 

3)   Bukti Syara'

Bukti syara’ tentang wujud Allah SWT bahwa seluruh kitab langit berbicara tentang itu. Seluruh hukum yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitab-kitab tersebut datang dari Rabb yang Maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang didatangkan kitab-kitab tersebut merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dari Robb yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang diberitakan itu.

4)   Bukti Indera

Bukti inderawi tentang wujud Allah dapat dibagi menjadi dua :
a. Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya do’a orang-orang yang                                                                                                         berdo’a serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapat musibah . Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah SWT. Allah berfirman :      
وَنُوحًا إِذْ نَادَىٰ مِن قَبْلُ فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَنَجَّيْنَٰهُ وَأَهْلَهُۥ مِنَ ٱلْكَرْبِ ٱلْعَظِيمِ
“ Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika ia berdo’a, dan kami memperkenankan do’anya, lalu kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (QS. Al- Anbiya/21 : 76)
Firman Allah   lagi :
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ
“ (ingatlah), Ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu …” (QS. Al- Anfal/8 : 9)
Dalam hadits, Anas bin Malik ra. berkata : ”Pernah seorang badui datang pada hari jum’at, pada waktu itu Nabi SAW tengah berkhotbah. Lelaki itu berkata : ”Hai Rasulullah  harta benda kami sudah habis, seluruh warga sudah kelaparan, oleh karena itu  mohonkanlah kepada Allah SWT untuk mengatasi kesulitan kami “. Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya dan berdo’a. Tiba-tiba awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rasulullah belum turun dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya. Pada jum’at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata: ”Hai Rasul Allah bangunan kami hancur dan harta bendapun tenggelam, do’akanlah akan kami ini (agar selamat) kepada Allah”. Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdo’a : “Ya Robbku, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami”. Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada  suatu tempat, kecuali menjadi terang (tanpa hujan).” (HR. Al-Bukhari)
b. Tanda-tanda para nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar         banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang wujud yang mengutus para nabi tersebut, yaitu Allah SWT, karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para rasul.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, Musa memukulkannya, lalu terbelahlah laut itu menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah berfirman :
فَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْبَحْرَ ۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍۢ كَٱلطَّوْدِ ٱلْعَظِيمِ
 “Lalu Kami wahyukan kepada Musa : ”Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar”. (QS. Asy- Syu’ara/26 : 63)
Contoh kedua adalah mukjizat nabi Isa As ketika menghidupkan orang orang yang sudah mati; lalu mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah. Firman Allah menceritakan perkataan nabi Isa as. :
وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ
“…..dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah…” (QS. Ali Imran/3 : 49)
Firman-Nya lagi :
وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي
“…dan (ingatlah)ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi hidup)dengan ijin-Ku….”(QS. Al-Maidah/5 : 110)
Contoh ketiga adalah mukjizat nabi Muhammad ketika kaum Quraisy meminta tanda atau mukjizat. Beliau mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah bulan itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikan. Allah SWT berfirman tentang hal ini :
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ . وَإِنْ يَرَوْا آَيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ
“Telah dekat (datangnya) saat (kiamat) dan telah terbelah pula bulan. Dan jika melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” (QS. Al-Qomar/54 :1-2)
Tanda-tanda yang diberikan Allah, yang dapat dirasakan oleh indera kita itu adalah bukti pasti wujud-Nya.     

والله أعلم بالصواب))



MENGIMANI RUBUBIYYAH ALLAH.


MENGIMANI RUBUBIYYAH ALLAH

 
A.    Pengertian Mengimani Rububiyyah Allah

Rububiyyah adalah kata yang dinisbatkan kepada salah satu nama Allah SWT, yaitu  Rabb. Nama ini mempunyai beberapa arti, antara lain : Al-Murabbi ( pemelihara ), An-Nashir  (penolong), Al-Malik ( pemilik ), Al-Mushlih ( yang memperbaiki ), As-Sayyid ( tuan ) dan Al-Wali ( wali ).
Dalam terminologi syariat Islam, istilah mengimani Rububiyyah Allah atau Tauhid Rububiyyah berarti :

 الِايْمَانُ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْخَالِقُ , المْاَلِكُ , المْتَصَرِّفُ فِيْ أُمُوْرِ هَذَا الْكَوْنِ , بِالْاِحْيَاءِ وَ الْاِمَاتَةِ وَغَيْرِهَا ِمنَ الْأُمُوْرِ الْقَدَرِيَّةِ   وَ السُّنَنِ الْكَوْنِيَّةِ .

“ Percaya bahwa hanya Allah-lah satu-satunya pencipta,  pemilik, pengendali alam raya  seperti menghidupkan dan mematikan  dan lainnya yang termasuk ketentuan Allah                   ( sunnatullah ) dalam alam “
Dalam pengertian ini  istilah Tauhid tidak terlepas dari akar makna bahasanya. Sebab Allah adalah Pemelihara makhluk, para Rasul dan wali-wali-Nya dengan segala spesifikasi yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Rezki-Nya meliputi semua hamba-Nya. Dia-lah Penolong Rasul-Rasul dan wali-wali-Nya, Pemilik bagi semua makhluk-Nya, Yang senantiasa memperbaiki keadaan mereka dengan pilar-pilar kehidupan yang telah diberikan kepada mereka, Tuan yang sampai pada derajat tertinggi dari kekuasaan, serta Wali atau Pelindung yang tak terkalahkan yang mengendalikan  urusan para wali dan Rasul-Nya.
Seorang muslim harus meyakini bahwa hanya Allah-lah satu-satunya pencipta alam semesta, selain Allah semuanya ciptaan ( makhluk ) Allah. Firman Allah :

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“ ( Yang memilik sifat-sifat yang ) demikian itu ialah Allah Rabb kamu, tidak ada ilah ( yang harus disembah ) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu “ ( QS. Al-An’am/6 : 102 ).
Karena Allah satu-satunya pencipta alam semesta, maka Allah pulalah satu-satunya pemilik alam semesta ini. Firman Allah :

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“ Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi “         ( QS. Al-Baqarah/2 : 284 )
Seorang muslim selain meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya pencipta dan pemilik, ia juga harus meyakini bahwa hanya Allah yang mengendalikan alam ini,  seperti menghidupkan dan mematikan, memberikan rizki, menyembuhkan penyakit, memberikan manfaat , madarat dan sebagainya.
Barangsiapa yang meyakini bahwa makhluk secara sendirian atau bersama-sama mampu menghidupkan dan mematikan, memberikan rizki atau menghalanginya, menyembuhkan penyakit, memberikan manfaat dan madarat tanpa kehendak Allah, maka orang  itu telah menyekutukan Allah walaupun pagi dan petang mengucapkan dua kalimat     syahadat, dan walaupun dia salat, shaum, melakukan haji dan mengaku sebagai muslim.. Firman Allah :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
 Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu ( kembali ). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat  sesuatu yang demikian itu ? Maha sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan “.   (QS. Ar-Rum/30 : 40).                     
Firman-Nya lagi :
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai  Kekuatan lagi Sangat          kokoh “ ( QS. Adz-Dzariyat/51 : 58 )
Firman-Nya lagi :

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu  kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. ( QS.Yunus/10 : 107 )

Sabda Rasulullah saw. :
"… وَاعْلَمْ أَنَّ الْاُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَي أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ ، لمَ ْيَنْفَعُوْكَ اِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ ، وَاِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَي أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لمَْ يَضُرُّوْكَ اِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الاَقْلاَمُ ، وَجَفَّتِ الصُّحُفُ".  )رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح(.

“ … Ketahuilah jika umat bersatu untuk memberikan manfaat padamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat melakukan hal itu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakan kamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu. Telah diangkat kalam dan telah kering   ( tinta ) lembaran-lembaran itu “ ( HR. At-Tirmidzi, dan ia telah berkata : “Ini hadits hasan sahih ).
Termasuk dalam pengendalian alam, seorang muslim harus meyakini bahwa hanya Allah-lah yang berhak menentukan aturan hidup manusia, karena Allah tidak menghendaki manusia hidup dalam keadaan kacau balau tanpa aturan hidup. Sebagaimana hanya Allah-lah satu-satunya pencipta, Dia pulalah yang berhak menentukan aturan hidup ( syariat ) untuk manusia.
Barangsiapa yang mempunyai keyakinan bahwa seorang manusia, suatu lembaga, suatu masyarakat atau seluruh manusia mempunyai hak untuk menentukan syariat, maka orang itu berarti telah menyekutukan Allah. Firman Allah :

  إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“ Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “. ( QS. Yusuf : 40 ).

Firman-Nya lagi :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang menyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? “. ( QS. Asy-Syura/40 : 21 ).

B.     Cakupan Mengimani Rububiyyah Allah

Selanjutnya mengimani Rububiyyah Allah mencakup dimensi-dimensi keimanan beikut ini :
Pertama  : Beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah yang bersifat umum. Misalnya ; menciptakan , memberi rezki, menghidupkan, mematikan, memberi manfaat dan madharat dll.
Kedua : Beriman kepada takdir Allah.
Ketiga  : Beriman kepada  keesaan zat Allah. 

C.    Dalam Beriman Kepada Allah Cukupkah Hanya Dengan Mengimani Rububiyyah-Nya Saja?

Kemudian yang juga harus diperhatikan dalam  beriman kepada Allah adalah bahwa mengimani  Rububiyyah Allah  atau Tauhid Rububiyyah bukanlah keseluruhan ajaran Tauhid, ia hanya sebagian dari keseluruhan itu. Karena itu tidak cukup bagi seorang muslim untuk hanya mengimani Rububiyyah  Allah. Karena pada hakekatnya semua umat –sepanjang sejarahnya – meyakini ajaran tauhid Rububiyyah, baik secara lahir dan batin maupun hanya secara batin, seperti pada kasus Fir’aun yang disinyalir Allah SWT dalam Al-Qur’an :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“ Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan ( mereka ) padahal hati mereka meyakini ( kebenaran ) nya “ ( QS : An-Naml/27 : 14 ).
Allah SWT berfirman tentang orang-orang musyrik :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “ Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ? “ Tentu mereka  akan menjawab :  “ Allah “. ( QS. Luqman/31 : 25 ).
Baca juga surat Al-Mu’minun : 84-89, Az-Zukhruf : 9 dan 87, surat Al-‘Ankabut : 61-63 dan surat Yunus : 31.
Bahkan Iblis pun mengakui Allah sebagai Rabb (Tuhan) mereka. Allah swt berfirman :
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Berkata Iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan". (QS. Al-Hijr : 36)

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (QS. Al-Hijr : 39)


والله أعلم بالصواب))


PENDAHULUAN AQIDAH


PENDAHULUAN AQIDAH


A.    Pengertian Aqidah         


   Aqidah menurut bahasa  berasal dari bentukan kata  عَقـَدَ- يَعْقـِدُ- عَقـْدًا yang mempunyai beberapa arti, antara lain :
a. Ikatan ( الربط ) seperti dalam kalimat عَقَدَ الحَبْلَ artinya : Ia mengikatkan atau  menyimpulkan tali. Ikatan tali itu disebut عُقْدَة , dalam QS. Al-Falaq digunakan dalam bentuk jama’: وَمِنْ شَرِّ النّفَّثّتِ فِي العُقَدِ) ) “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” (QS. al-Falaq/113: 4)
b.  Perjanjian atau akad (العقد  ) seperti dalam ayat : يآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِ)) “Hai Orang-orang beriman, penuhilah akad-akad itu”(QS. al-Maidah/5 :1)
c. Tekad Hati (عزم القلب ) seperti dalam ayat :
(لاَيُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِى أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الأَيْمَانَ)
            “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak (untuk bersumpah). Tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja”. (QS. al-Maidah/5 : 89).               
 Aqidah menurut istilah umum sebagaimana disebutkan oleh Umar Sulaiman   Al-Asyqar dalam bukunya Al-'AQidah Fillah adalah :
الأُمُوْرُ الَّتِى تُصَدِّقُ بِهَا النُّفُوْسُ وَتَطْمَئِنُّ اِلَيْهَا الْقُلُوْبُ وَتَكُوْنُ يَقِيْنًا عِنْدَ أَصْحَابِهَا لاَيُمَازِجُهَا رَيْبٌ
وَلاَ يُخَالِطُهَا شَكُّ
“Perkara-perkara yang dibenarkan jiwa, dan hati merasa tenang karenanya serta menjadi suatu keyakinan bagi pemiliknya yang tidak dicampuri keraguan sedikitpun”.
          Definisi ini sejalan dengan definisi yang diungkapkan Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan dalam bukunya Al-Madkhal Li Dirasati Al-Aqidah Al-Islamiyyah 'Ala Madzhabi Ahli As-Sunnah Wa Al-Jama'ah . Menurut beliau 'aqidah adalah :

الإِيْمَانُ الَّذِي لاَ يَحْتَمِلُ النَّقِيْضَ
" Keimanan yang tidak mengandung kontra " .
         
          Kata "iman" di sini, berarti pembenaran. Kata "tidak menagndung kontra" berarti : tidak ada sesuatu selain iman dalam hati sang hamba, tidak ada asumsi selain bahwa ia beriman kepada-Nya. Maka semua asumsi akan adanya kontra seperti keraguan, dugaan, waham, ketidak tahuan, kesalahan, kelupaan, tidak termasuk dalam batasan ini.
Dari dua definisi yang dikemukakan di atas,  jelas bahwa  inti dari aqidah menurut Islam adalah keyakinan yang tidak dicampuri atau tidak mengandung keraguan, dugaan dan semacamnya.
            Sedangkan aqidah menurut istilah  Islam adalah keyakinan yang kuat tentang :ububiyyah, uluhiyyah, nama dan sifat Allah; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; Rasul-rasul-Nya; hari akhir; qadar baik dan buruknya; hal-hal ghaib dan pokok-pokok agama lainnya berdasarkan dalil yang kuat; yang disepakati ulama terdahulu; ketundukan penuh kepada Allah dalam perintah, hukum; serta ketaatan dan mengikuti Rasul-Nya.
Beberapa perkara yang harus menjadi keyakinan bagi setiap muslim  adalah keyakinan tentang beberapa perkara  yang disebutkan Allah dan Rasul-Nya, bukan sembarang keyakinan. Inilah yang disebutkan dalam  pengertian aqidah menurut istilah Islam; yaitu keyakinan yang kuat tentang pokok-pokok aqidah Islam atau  yang disebut dengan rukun iman; keyakinan tentang hal-hal ghaib seperti  adanya makhluk ghaib yang bernama jin; pokok-pokok agama lainnya berdasarkan dalil yang kuat  seperti wajibnya shalat lima waktu  yang kalau wajibnya diingkari seseorang menjadi  kafir; serta ketundukan dan kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya. 
Aqidah dalam  Islam adalah pasangan syari’ah, karena Islam adalah aqidah dan syari’ah. Syari’ah adalah kewajiban-kewajiban praktis dalam Islam yang harus dilakukan seseorang dalam ibadah dan mu’amalah. Sedangkan aqidah bukan perkara-perkara yang bersifat praktis, tetapi perkara-perkara yang bersifat teoritis yang harus diyakini seseorang dengan hatinya, karena Allah menyampaikannya melalui al-Qur’an atau melalui wahyu kepada Rasulullah saw.
Aqidah secara umum terbagi menjadi dua :
1.  ‘Aqidah Shahihah (aqidah yang benar), yaitu aqidah yang bersumber dari Allah SWT, yang dibawa para Rasul-Nya pada zaman dan tempat manapun juga. Pada dasarnya aqidah yang dibawa para Rasul itu satu, karena sumbernya satu. Tidak terbayangkan aqidah yang sumbernya satu itu berbeda dari seorang Rasul dengan Rasul yang lain, atau berbeda dari satu zaman dengan zaman yang lain.
2.   ‘Aqidah Fasidah (aqidah yang salah), yaitu aqidah yang bersumber pada akal fikiran manusia. Setinggi apapun derajat manusia, maka ilmunya tetap terbatas dan terpengaruh oleh  adat istiadat, pemikiran-pemikiran orang lain dan hawa nafsunya sendiri.
Rusaknya aqidah itu bisa juga karena adanya penyimpangan dan perubahan walaupun asalnya benar, seperti aqidah agama Yahudi dan Nasrani di masa sekarang yang keduanya sudah mengalami penyimpangan dan perubahan sejak masa yang lama.
Aqidah yang benar sekarang ini hanya terdapat dalam Islam, karena Islam adalah agama yang terpelihara, yang Allah menjamin kemurniannya.
Firman Allah :
ِانَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. al-Hijr/15 : 9).
         

B.   Nama-Nama yang Berkaitan dengan Aqidah


Di antara  nama-nama  yang berkaitan dengan aqidah adalah ::

1.        Iman


          Iman menurut bahasa adalah at-tashdiq atau membenarkan sedangkan menurut ajaran Islam Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan melaksanakan dengan anggota badan.
Aqidah dikatakan Iman karena keduanya sangat berkaitan erat yang tak dapat dipisahkan, dimana Aqidah menuntut adanya Iman, dan Iman mengandung Aqidah.

2.      Tauhid
Tauhid berasal dari kata وَحََدَ- يُوَحِّدُ- تَوْحِيْدًا yang berarti menyatukan, kemudian  dalam makna ini dalam Ilmu Tauhid digunakan untuk menunjukkan suatu yang tunggal dan istimewa, karena Esanya Allah bukan karena ada yang menjadikan-Nya satu. Jadi kata Al-Wahid adalah individu yang memiliki kekhususan-kekhususan tersendiri.
Sedangkan tauhid menurut ajaran  Islam adalah meng-Esa-kan  Allah sebagai Tuhan (Rububiyyah), sebagai sembahan (Uluhiyyah), dengan segala nama, sifat dan perbuatannya. Ilmu Aqidah dinamakan Ilmu Tauhid karena permasalahan terbesar Ilmu Aqidah adalah masalah tauhid.

3.      Ushuluddin
           
Ushuluddin atau Ushul ad-addien terdiri dari dua kata Ushul dan ad-dien. Ushul bentuk jamak dari Ashl yang menurut bahasa Arab berarti sesuatu yang di atasnya sesuatu yang lain dibangun, misalnya fondasi rumah. Sedangkan pengertian terminologinya adalah sesuatu yang mempunyai cabang. Tapi dalam terminologi syariat Islam kata Ushul antara lain digunakan dengan arti kaidah (dasar) yang kokoh.
          Sedang kata ad-dien dalam bahasa Arab berarti ketundukan dan kepasrahan. Dalam terminologi Syariat Islam, ad-dien berarti melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan atau mentaati Allah dan Rosul-Nya.
          Dengan demikian Ushuluddin berarti kaidah-kaidah umum yang besar yang dengannya ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya serta ketundukan terhadap perintah dan larangan-Nya teraplikasikan. Makna ini tentu saja hanya dapat diterapkan untuk ilmu aqidah. Ilmu aqidah dikatakan Ushuluddin karena ajaran Islam yang lain ditegakkan di atasnya.

4.      Al-Fiqhu  al-Akbar

          Yang pertama sekali menggunakan istilah ini untuk Ilmu aqidah adalah Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Zauthi pada abad kedua Hijriyah ketika menulis sebuah buku tentang “Aqidah Kaum Salaf”.
            Al-Fiqh dalam bahasa Arab berarti pemahaman, kata ini kemudian digabung dengan kata al-akbar yang digunakan dalam arti pokok-pokok agama Islam untuk membedakannya dari kata al-Fiqhu al-Ashghar yang biasa digunakan untuk menunjukkan ilmu tentang yang halal dan yang haram beserta berbagai masalah Furu’dalam Islam.
          Ilmu Aqidah dikatakan al-Fiqhu al-Akbar karena Aqidah merupakan masalah paling besar  dan paling penting dalam keseluruhan ajaran Islam.

C.   Urgensi Aqidah Islam


Urgensi Aqidah Islam bisa dijelaskan dalam beberapa hal di bawah ini :
1.      Aqidah Islam merupakan  fondasi dan dasar Agama Islam, sedangkan hukum-hukum syara’ merupakan cabang dari dasar ini. Oleh karena itu Nabi saw selama 13 tahun tinggal di Mekkah berdakwah mengokohkan aqidah ini. Beliau membina para sahabat ra dengan aqidah ini, menanamkannya ke dalam hati mereka. Ketika aqidah ini sudah melekat pada diri mereka, terwujudlah sikap pasrah dan tunduk pada hukum-hukum syara’ ini. Sehingga mereka melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
2.      Meluruskan Aqidah merupakan kunci dakwah para Rasul. Tidak ada seorang rasul pun yang diutus Allah kecuali memulai dakwahnya dengan memperbaiki aqidah kaumnya. Sebab jika aqidahnya baik, maka seluruh urusan akan baik pula. Baiknya tingkah laku dan akhlak seseorang berbanding lurus dengan baik aqidahnya.
3.      Mengetahui  Aqidah Islam merupakan ilmu yang paling mulia dan paling utama; sebab mulianya ilmu tergantung mulianya yang diketahui. Aqidah Islam mencakup ilmu tentang hak-hak Allah seperti sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, mencakup kewajiban hamba dalam bentuk beribadah dan taat kepada-Nya. Juga mencakup hak-hak Nabi Muhammad saw, berbagai keadaan di hari akhir, kembalinya manusia ke surga atau neraka. Mengetahui aqidah Islam juga dapat menjaga seseorang dari penyimpangan ke jalan aqidah dan aliran yang sesat.
4.      Aqidah Islam adalah satu-satunya aqidah yang dapat mewujudkan ketenangan dan ketenteraman bagi penganutnya yang berpegang teguh kepadanya. Firman Allah Ta’ala :
بَلَىٰۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Al-Baqarah :112)
5.      Aqidah Islam merupakan sebab mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah. Sebab orang yang memiliki aqidah yang lurus adalah orang-orang yang selamat dan diberikan pertolongan sampai hari kiamat. Sabda Rasulullah saw :
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ "
Akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang menegakkan perintah Allah, tidak ada yang membahayakannya orang yang menghinakan atau menyelisihi mereka sampai datangnya hari Kiamat, dan mereka akan selalu menang atas manusia." (HR. Muslim)
6.      Aqidah Islam adalah merupakan tali Allah yang kuat, dia adalah satu-satunya yang dapat menghimpun dan menyatukan barisan kaum muslimin. Firman Allah :
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS.  Ali 'Imran : 103)
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ
Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. (QS. Al-Anfal : 46)




(والله أعلم بالصواب)