Kamis, 05 April 2012

Pendidikan Anak Dalam Perspektif Tafsir QS. Luqman : 12-19


PENDIDIKAN ANAK DALAM PERSPEKTIF  TAFSIR SURAT LUQMAN : 12-19
(oleh : H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA)


A.      TEKS  AYAT

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

B.      ARTI KOSAKATA KUNCI
الْحِكْمَةَ : menurut istilah para ulama adalah
استكمال النفس الإنسانية باقتباس العلوم النظرية، واكتساب الملكة التامة على الأفعال الفاضلة، على قدر طاقتها
Menyempurnakan jiwa manusia dengan memetik ilmu-ilmu teoritis, dan memperoleh bakat kemampuan yang sempurna terhadap  perbuatan-perbuatan yang utama yang sesuai dengan kadar potensinya.
 أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ  : yakni hendaknya kamu bersyukur, atau bersyukurlah atas hikmah yang diberikan kepadamu. Syukur adalah sanjungan kepada Allah, mentaati perintah-Nya, dan menggunakan anggota badan untuk melakukan kebaikan yang diciptakan untuknya.
  فَإِنَّما يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ  : maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; karena manfaat  dan pahala syukur kembali kepadanya, yaitu kesinambungan dan bertambahnya nikmat.
غَنِيٌّ  : Maha Kaya, tidak membutuhkan syukur makhluknya.
حَمِيدٌ  : Maha Terpuji, terpuji pada kenyataan walaupun tidak dipuji, terpuji pada ciptaan-Nya, hal itu dinyatakan oleh seluruh makhluk-Nya dengan bahasa keadaan.

وَإِذْ قالَ لُقْمانُ لِابْنِهِ : ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya. Nama anaknya adalah An’am,  Asykam, Matan, atau Tsaran menurut riwayat Suhayli.
 وَهُوَ يَعِظُهُ : ia member pelajaran kepadanya. Mau’izhah (pelajaran) adalah mengingatkan kebaikan dengan cara lembut yang dapat melunakkan hati.
يا بُنَيَّ : bentuk tashghir dari ibni untuk menunjukkan kerinduan dan kecintaan.
 إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ : sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar. Kelaliman (zhalim) adalah meletakkan sesuatu  bukan pada tempatnya. Syirik dikatakan zhalim, karena syirik menyamakam antara pemberi nikmat satu-satunya dengan bukan pemberi nikmat.
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسانَ  : yakni kami perintahkan dan kami wajibkan.
 بِوالِدَيْهِ  : yakni untuk berbuat baik kepada keduanya.
وَهْناً  : kelemahan.
عَلى وَهْنٍ  : di atas kelemahan
وَفِصالُهُ : menyapihnhya.
 فِي عامَيْنِ : dalam dua tahun. Ini merupakan dalil bahwa waktu menyusui paling lama adalah dua tahun.
 أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوالِدَيْكَ : ini merupakan penjelasan atas : وصيّنا
الْمَصِيرُ : tempat kembali, maka Aku akan menghisabmu atas kesyukuran atau kekufuran.
ما لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ : sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu
فَلا تُطِعْهُما : maka janganlah kamu mengikuti keduanya (dalam hal itu).
مَعْرُوفاً : dengan baik
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنابَ إِلَيَّ  : dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, yakni kembali kepada-Ku dengan mentauhidkan dan mentaati-Ku dan mentaati Rasul-Ku.
فَأُنَبِّئُكُمْ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ : maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
إِنَّها إِنْ تَكُ مِثْقالَ حَبَّةٍ : sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi
 يَأْتِ بِهَا اللَّهُ : niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya)
 لَطِيفٌ خَبِيرٌ : Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
وَاصْبِرْ عَلى ما أَصابَكَ : bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
 مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ: termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)
 إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتالٍ فَخُورٍ : Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ  : Dan sederhanalah kamu dalam berjalan
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ  : dan lunakkanlah suaramu (pertengahan dalam bersuara)
إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْواتِ  : Sesungguhnya seburuk-buruk suara
لَصَوْتُ الْحَمِيرِ  : ialah suara keledai

C.      TERJEMAH AYAT

12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
D.    MUNASABAH AYAT
Setelah Allah menjelaskan rusaknya keyakinan orang-orang musyrik dan bahwa orang musyrik itu zalim dan sesat, Dia menunjukkan kesesatan dan kezaliman mereka dengan ketepatan hikmah dan ilmu yang menunjukkan kepada pengakuan terhadap keesaan-Nya, walalupun tidak dengan kenabian. Karena Luqman menyampaikan pada penetapan tauhid, ketaatan kepada Allah, dan akhlak yang mulia walaupun beliau bukan nabi dan rasul.
Ini merupakan isyarat bahwa mengikuti Nabi saw adalah wajib dalam hal yang tidak dimengerti maknanya untuk menampakkan pengabdian, dan lebih wajib lagi dalam hal yang dimengerti maknanya.
E.       PENJELASAN AYAT
Penjelasan ayat 12 :
(وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ/ Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".)

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu perasaan yang halus, akal pikiran dan pengetahuan yang dengan itu ia telah sampai kepada pengetahuan yang hakiki dan jalan yang benar yang dapat menyampaikannya kepada kebahagiaan abadi. Karena itu ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya nikmat itu. Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan dan ajaran-ajaran yang disampaikan Luqman itu bukanlah berasal dari wahyu yang diturunkan Allah kepadanya, tetapi semata-mata berdasarkan ilmu dan hikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Banyak riwayat yang menerangkan asal usul Luqman ini, dan riwayat-riwayat itu antara yang satu dengan yang lain tidak ada persesuaiannya. Said bin Musayyab mengatakan bahwa Luqman berasal dari Sudan sebelah selatan Mesir sekarang. Zamakhsyari dan Ibnu Ishak mengatakan bahwa Luqman termasuk keturunan Bani Israel dan termasuk salah seorang cucu Azar ayah Ibrahim. Menurut pendapat ini, Luqman hidup sebelum kedatangan Nabi Daud as. Sedang menurut Al Waqidi, ia salah seorang kadi dari kadi-kadi Bani Israel. Ada pula riwayat yang menerangkan bahwa Luqman itu seorang Nabi, sedang riwayat lain menyatakan bahwa Luqman hanyalah seorang wali, bukan seorang Nabi).

Terlepas dari semua pendapat riwayat di atas, apakah Luqman itu seorang Nabi atau bukan, apakah ia dari seorang Sudan atau seorang keturunan Bani Israel, maka yang jelas dan diyakini ialah: "Luqman adalah seorang hamba Allah yang telah dianugerahi Nya hikmah, mempunyai akidah yang benar, memahami pokok agama Allah dan mengetahui akhlak yang mulia. Namanya disebut dalam Al-Qur’an sebagai salah seorang dari orang-orang yang selalu menghambakan diri kepada- Nya.

Sebagai tanda bahwa Luqman itu seorang hamba Allah yang selalu taat kepada- Nya, merasakan kebesaran dan kekuasaan Nya di alam semesta ini, ialah bersyukur kepada Nya, karena merasa dirinya sangat tergantung kepada nikmat Allah itu dan merasa dia telah dapat hikmah dari Allah.
Menurut riwayat dari Ibnu `Umar, ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Luqman bukanlah seorang Nabi, tetapi ia adalah seorang hamba yang banyak melakukan tafakur, ia mencintai Allah, maka Allah mencintainya pula.
Banyak riwayat yang menyebutkan kata-kata hikmah yang berasal dari Lukman. Di antaranya ialah nasihat kepada anaknya:

أي بني ، إن الدنيا بحر عميق ، وقد غرق فيها ناس كثيرون ، فاجعل سفينتك فيها تقوى الله تعالى ، وحشوها الإيمان ، وشراعها التوكل على الله ، لعلك تنجو ولا أراك ناجيا .

Artinya:
"Wahai anakku, sesungguhnya kehidupan di dunia ini laksana laut yang dalam, dan sesungguhnya banyak orang yang tenggelam di dalamnya, karena itu jadikanlah takwa (kepada Allah) sebagai sampan engkau dalam mengarunginya, muatannya adalah iman. layarnya adalah tawakal kepada Allah. mudah-mudahan engkau selamat mengarunginya dan aku tidak melihatmu selamat".

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa orang yang bersyukur kepada Allah, berarti ia bersyukur untuk kepentingan dirinya sendiri, karena Allah akan menganugerahkan kepadanya pahala yang banyak karena syukurnya itu. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Artinya:
Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar maka sesungguhnya Tuhanku Maha kaya lagi Maha Mulia. (Q.S. An Naml: 40)

Dan firman Allah SWT:
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلأنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ
Artinya:
Dan barangsiapa yang beramal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). (Q.S. Ar Rum: 44)

Dan orang-orang yang mengingkari nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada Nya berarti ia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, karena Allah tidak akan memberinya pahala bahkan menyiksanya dengan siksaan yang pedih.

Dalam pada itu Allah sendiri tidak memerlukan syukur hamba Nya itu, karena syukur hamba Nya itu tidak akan memberikan keuntungan kepada Nya sedikitpun, dan tidak pula akan menambah kemuliaan Nya. Dia adalah Maha Kuasa lagi Maha Terpuji.
Penjelasan ayat  13
(وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ/ Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".)
Pada ayat ini, Allah SWT memperingatkan kepada Rasulullah saw nasihat yang pernah diberikan Luqman kepada putranya, waktu ia memberi pelajaran kepada putranya itu. Nasihat itu ialah: "Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kelaliman yang sangat besar.
Mempersekutukan Allah dikatakan kelaliman, karena perbuatan itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu yang melimpahkan nikmat dan karunia itu.
Dalam hal ini menyamakan Allah SWT sebagai sumber nikmat dan karunia dengan patung-patung yang tidak dapat berbuat sesuatupun. Dikatakan bahwa perbuatan itu adalah kelaliman yang besar, karena yang disamakan itu ialah Allah Pencipta dan Penguasa semesta alam, yang seharusnya semua makhluk mengabdi dan menghambakan diri kepada Nya.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Masud, ia berkata: tatkala turun ayat:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Artinya:
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al An'am: 82)
Maka timbullah keresahan di antara para sahabat Rasulullah saw karena mereka berpendapat bahwa amat beratlah rasanya tidak mencampur adukkan keimanan dan kelaliman, lalu mereka berkata kepada Rasulullah saw: "Siapakah di antara kami yang tidak mencampur adukkan keimanan dan kelaliman? Maka Rasulullah menjawab: "Maksudnya bukan demikian, apakah kamu tidak mendengar perkataan Luqman: "Hai anakku, jangan kamu memperserikatkan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kelaliman yang besar".
Dari ayat ini dipahami bahwa di antara kewajiban ayah kepada anak-anaknya ialah memberi nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anaknya itu dapat menempuh jalan yang benar, dan menjauhkan mereka dari kesesatan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu". (Q.S. At Tahrim: 6)
Jika diperhatikan susunan kalimat ayat ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Luqman sangat melarang anaknya melakukan syirik. Larangan ini adalah suatu larangan yang memang patut di sampaikan Luqman kepada putranya karena mengerjakan syirik itu adalah suatu perbuatan dosa yang paling besar.
Anak adalah sambungan hidup dari orang tuanya, cita-cita yang tidak mungkin dapat dicapai orang tua selama hidup di dunia diharapkannyalah anaknya yang akan mencapainya. Demikian pula kepercayaan yang dianut orang tuanya di samping budi pekerti yang luhur sangat diharapkannya agar anak-anaknya menganut dan memiliki semuanya itu di kemudian hari. Seakan-akan dalam ayat ini diterangkan bahwa Luqman telah melakukan tugas yang sangat penting kepada anaknya, yaitu telah menyampaikan agama yang benar dan budi pekerti yang luhur. Cara Luqman menyampaikan pesan itu wajib dicontoh oleh setiap orang tua yang mengaku dirinya muslim.
Penjelasan ayat 14
(وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ/ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.)
Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya, dengan mencontoh dan melaksanakan haknya. Pada ayat-ayat lain juga Allah memerintahkan yang demikian, firman Nya:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Q.S. Al Isra': 23)

Kemudian disebut pula dalam ayat ini sebab-sebab diperintahkan berbuat baik kepada ibu, yaitu:
1. Ibu mengandung seorang anak sampai ia dilahirkan, selama masa mengandung itu ibu menahan dengan sabar penderitaan yang cukup berat, mulai pada bulan-bulan pertama, kemudian kandungan itu semakin lama semakin berat, dan ibu semakin lemah, sampai ia melahirkan. Kemudian baru pulih kekuatannya setelah habis masa nifasnya.
2. Ibu menyusukan anaknya sampai masa dua tahun. Amat banyak penderitaan dan kesukaran yang dialami ibu dalam masa menyusukan anak itu. Hanyalah Allah yang mengetahui segala penderitaan itu.
Dalam ayat ini hanya yang disebutkan apa sebabnya seorang anak harus menaati dan berbuat baik kepada ibunya, tidak disebutkan apa sebabnya seorang anak harus menaati dan berbuat baik kepada bapaknya. Hal ini menunjukkan bahwa kesukaran dan penderitaan dalam mengandung, memelihara dan mendidik anaknya jauh lebih berat bila dibandingkan dengan penderitaan yang dialami bapak dalam memelihara anaknya tidak hanya berupa pengorbanan sebagian dari waktu hidupnya untuk memelihara anaknya, tetapi juga penderitaan jasmani, rohani dan penyerahan sebagian zat-zat penting dalam tubuhnya untuk makanan anaknya yang dihisap oleh anak itu dan darahnya sendiri selama anaknya itu dalam kandungannya. Kemudian sesudah si anak lahir ke dunia lalu disusukannya dalam masa dua tahun lamanya. Air susu ibu (ASI) ini juga terdiri dari zat-zat penting dalam darah ibu, yang disuguhkannya kepada anaknya dengan rela kasih sayang untuk dihisap anaknya itu. Dalam ASl ini terdapat segala macam zat yang diperlukan untuk pertumbuhan jasmani dan rohani anak itu, dan untuk mencegah segala macam penyakit. Zat-zat ini tidak terdapat pada susu sapi, oleh sebab itu susu sapi dan yang sejenisnya tidak akan sama mutunya dengan ASI bagaimanapun mengusahakan agar sama mutunya. Maka segala macam bubuk susu, atau susu kaleng yang dikenal dengan istilah Susu Kental manis (SKM) tidak ada yang sama mutunya dengan ASI.
Sebab seorang ibu haruslah menyusui anaknya yang dicintainya itu dengan ASI, janganlah hendaknya dia menggantikannya dengan bubuk susu atau SKM, kecuali dalam hal yang amat memaksa. Apalagi mendapatkan ASI dari ibunya adalah hak anak itu, dan menyusukan anak adalah suatu kewajiban yang telah dipikulkan oleh Allah SWT kepada ibunya.
Oleh karena hal-hal yang disebutkan itu, maka dalam ayat ini Allah SWT hanya menyebutkan sebab-sebabnya manusia harus menaati dan berbuat baik kepada ibunya. Nabi saw sendiri memerintahkan agar seorang anak lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibunya dari pada kepada bapaknya, sebagaimana diterangkan dalam hadis:

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ
 
Artinya:
"Dari Bahaz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata "Aku bertanya Ya Rasulullah. kepada siapakah aku wajib berbakti?" Jawab Rasulullah . "Kepada ibumu". Aku bertanya: "Kemudian kepada siapa?". Jawab Rasulullah: "Kepada ibumu". Aku bertanya: "Kemudian kepada siapa lagi?". Jawab Rasulullah: "Kepada ibumu". Aku bertanya: "Kemudian kepada siapa lagi?". Jawab Rasulullah: "Kepada bapakmu". Kemudian kepada kerabat yang lebih dekat. kemudian kerabat yang lebih dekat". (H.R. Abu Daud dan Tirmizi, dikatakan sebagai hadis hasan)

Adapun tentang lamanya menyusukan anak, maka Al-Qur’an memerintahkan agar seorang ibu menyusukan anaknya paling lama dalam masa dua tahun, sebagai yang diterangkan dalam ayat ini, dengan firman Nya" dan menyapihnya dalam masa dua tahun" sebagai disebutkan di atas.
Dalam ayat-ayat yang lainpun Allah SWT menentukan lamanya menyusukan anak itu, yaitu selama dua tahun juga. Allah SWT berfirman:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
Artinya:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Q.S. Al Baqarah: 233)

Firman Nya lagi:
وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا
Artinya:
Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan". (Q.S. Al Ahqaf: 15)

Maksudnya: Lamanya seorang ibu mengandung anaknya. ialah enam bulan (dan ini adalah masa mengandung yang paling kurang), dan masa menyusukan ialah dua puluh empat bulan.
Jadi menurut yang diajarkan oleh Al-Qur’an, seorang ibu menyusukan anaknya hendaklah dalam masa dua tahun. Pada ayat 233 surat Al Baqarah di atas diterangkan bahwa masa menyusukan yang dua tahun itu adalah bagi seorang ibu yang hendak menyusukan anaknya dengan sempurna. Maksudnya, bila ada sesuatu halangan, atau masa dua tahun itu dirasakan amat berat, maka boleh dikurangi.
Penentuan dari Allah SWT bahwa masa menyusukan itu adalah dua tahun, adalah pengaturan dari Tuhan untuk menjarangkan kelahiran. Dengan menjalankan pengaturan yang alamiyah ini seorang ibu hanya akan berputra paling rapat sekali dalam masa tiga tahun, atau kurang sedikit. Sebab dalam masa menyusukan, seorang wanita dianjurkan jangan dalam keadaan mengandung.
Kemudian Allah SWT menjelaskan yang dimaksud dengan "berbuat baik" yang diperintahkan Nya dalam ayat 14 ini, yaitu agar manusia selalu bersyukur setiap saat menerima nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan Nya kepada mereka setiap saat, dengan tiada putus-putusnya, dan bersyukur pula kepada ibu bapak karena ibu bapak itulah yang membesarkan, memelihara, dan mendidik dan bertanggung jawab atas diri mereka, sejak dalam kandungan sampai kepada saat mereka sanggup berdiri sendiri. Dalam waktu-waktu itu ibu bapak menanggung segala macam kesusahan dan penderitaan, baik dalam menjaga diri maupun dalam usaha mencarikan nafkahnya.
Ibu bapak dalam ayat ini disebut secara umum, tidak dibedakan antara ibu bapak yang muslim dengan yang kafir. Karena itu dapat disimpulkan suatu hukum berdasarkan ayat ini, yaitu seorang anak wajib berbuat baik kepada ibu bapaknya, apakah ibu bapaknya itu muslim atau kafir.
Di Samping yang disebutkan ada lagi beberapa hal yang mengharuskan anak menghormati dan berbuat baik kepada ibu bapak, yaitu:
1. Ibu dan bapak telah mencurahkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Cinta dan kasih sayang itu terwujud dalam berbagai bentuk, di antaranya ialah usaha-usaha memberi nafkah, mendidik dan menjaga serta memenuhi keinginan-keinginan anaknya. Usaha-usaha yang tidak mengikat itu dilakukan tanpa mengharapkan balasan sesuatupun dari anak-anaknya, kecuali agar anak-anaknya di kemudian hari berguna bagi agama, nusa dan bangsa
2. Anak adalah buah hati dan pengarang jantung dari ibu bapaknya, seperti yang disebutkan dalam suatu riwayat. Rasulullah saw bersabda: "Fatimah adalah buah hatiku".
3. Anak-anak sejak dari dalam kandungan ibu sampai dia lahir ke dunia dan sampai pula dewasa, makan, minum dan pakaian serta segala keperluan yang lain ditanggung ibu bapaknya.

Dengan perkataan lain dapat diungkapkan bahwa nikmat yang paling besar yang diterima oleh seorang manusia adalah nikmat dari Allah, kemudian nikmat yang diterima dari ibu bapaknya. Itulah sebenarnya Allah SWT meletakkan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang ibu bapak, sesudah kewajiban beribadat kepada Nya.

Pada akhir ayat ini Allah SWT memperingatkan bahwa manusia akan kembali kepada Nya, bukan kepada orang lain. Pada saat itu Dia akan memberikan pembalasan yang adil kepada hamba-hamba Nya. Perbuatan baik akan dibalasi pahala yang berlipat ganda berupa surga yang penuh kenikmatan sedang perbuatan jahat akan dibalasi dengan siksa berupa neraka yang menyala-nyala.
Penjelasan ayat  15
(وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ / Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.)

Ayat ini menerangkan dalam hal tertentu, maka seseorang anak dilarang menaati ibu bapaknya. yaitu jika ibu bapaknya memerintahkan kepadanya memperserikatkan Allah, yang dia sendiri memang tidak mengetahui bahwa Allah SWT mempunyai sekutu, karena memang tidak ada sekutu bagi Nya. Maka sepanjang pengetahuan manusia Allah SWT tidak mempunyai sekutu. Manusia menurut nalurinya mengesakan Tuhan.
Diriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Saad Abu Waqqas, ia berkata: "Tatkala aku masuk Islam ibuku bersumpah bahwa beliau tidak akan makan dan minum, sebelum aku meninggalkan agama Islam itu". Untuk itu pada hari pertama aka mohon agar beliau mau makan dan minum, tetapi beliau menolaknya dan beliau tetap bertahan pada pendiriannya. Pada hari kedua aku juga mohon agar beliau mau makan dan minum, tetapi beliau malah tetap pada pendiriannya. Pada hari ketiga aku mohon kepada beliau agar beliau mau makan dan minum, tetapi beliau tetap menolaknya. Karena itu aku berkata kepadanya: "Demi Allah, seandainya ibu mempunyai seratus jiwa, niscaya jiwa itu akan keluar satu persatu, sebelum aku meninggalkan agama yang aku peluk ini". Setelah ibuku melihat keyakinan dan kekuatan pendirianku, maka beliaupun makan".

Dari sebab turunnya ayat ini diambil kesimpulan bahwa Saad tidak berdosa, karena tidak mengikuti kehendak ibunya untuk kembali kepada agama syirik. Hukum ini berlaku pula untuk seluruh umat Nabi Muhammad yang tidak boleh taat kepada orang tuanya mengikuti agama syirik dan perbuatan dosa yang lain.
Selanjutnya Allah SWT memerintahkan agar seorang anak tetap memperlakukan kedua ibu bapaknya dengan baik yang memaksanya mempersekutukan Tuhan itu dalam urusan keduniawian, seperti menghormati, menyenangkan hati, memberi pakaian, tempat tinggal yang layak baginya, biarpun kedua orang tuanya itu memaksanya mempersekutukan Tuhan atau melakukan dosa yang lain.

Pada ayat yang lain diperingatkan bahwa seseorang anak wajib mengucapkan kata-kata yang baik kepada ibu bapaknya. Jangan sekali-kali bertindak atau mengucapkan kata-kata yang menyinggung hatinya, walaupun kata-kata itu "ah" sekalipun. Allah SWT berfirman:
فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
Artinya:
"... maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah". (Q.S. Al Isra': 23)

Setelah Allah melarang seorang anak menaati perintah orang tuanya memperserikatkan Tuhan, maka pada akhir ayat ini kaum Muslimin diperintahkan agar mengikuti jalan orang yang menuju kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa saja. Janganlah diikuti jalan orang yang memperserikatkan Allah dengan makhluk Nya. Kemudian ayat ini ditutup dengan peringatan dari Tuhan bahwa hanya kepada-Nyalah aku kembali dan Tuhan akan memberitahukan kepadanya apa-apa yang telah dikerjakan selama hidup di dunia.
Ayat 14 dan 15 di atas seakan-akan memutuskan perkataan Luqman kepada anaknya. Pada ayat 13 diterangkan wasiat Luqman kepada anaknya, sedangkan ayat 14 dan 15 merupakan perintah Allah kepada orang-orang yang beriman agar berbuat baik kepada orang tua mereka. Kemudian pada ayat 16 kembali diterangkan wasiat Luqman kepada anaknya. Cara penyampaian yang demikian itu adalah untuk mengingatkan orang-orang yang beriman bahwa beriman hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada orang tua itu adalah suatu perbuatan yang wajib dilakukan oleh setiap anak dan wajib disampaikan oleh orang tua kepada anaknya, seperti telah dilakukan oleh Luqman kepada anaknya.

Penjelasan ayat 16
(يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ / (Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui)

Luqman mewasiatkan kepada anaknya agar selalu waspada terhadap rayuan yang telah mengajak dan mempengaruhi manusia melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Apa yang dilakukan manusia, sejak dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya, yang nampak dan yang tidak nampak, yang terlihat dan yang tersembunyi baik di langit maupun di bumi, pasti diketahui Allah Karena itu Allah pasti akan memberikan pembalasan yang setimpal dengan perbuatan manusia itu; perbuatan baik akan dibalasi dengan surga yang penuh kenikmatan, sedang perbuatan jahat dan dosa akan dibalasi dengan neraka yang menyala-nyala. Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu yang tidak ada sedikitpun yang luput dari pengetahuan Nya.
Keadilan Allah SWT dalam menimbang perbuatan manusia itu dilukiskan dalam firman Nya:
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا
Artinya:
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. (Q.S. Al Anbiya: 47)
Penjelasan ayat  17
(يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ / Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).)

Pada ayat ini Luqman mewasiatkan kepada anaknya:
1. Selalu mendirikan salat dengan sebaik-baiknya, sehingga salat itu diridai Allah. Jika salat yang dikerjakan itu diridai Allah perbuatan keji dan perbuatan mungkar dapat dicegah. Jika tetap demikian halnya, maka jiwa menjadi bersih, tidak ada kekhawatiran terhadap diri
orang itu, dan mereka tidak akan bersedih hati jika ditimpa cobaan Tuhan.
2. Berusaha mengajak manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang diridai Allah dan berusaha agar manusia tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa, berusaha membersihkan jiwa dan mencapai keberuntungan. Allah SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya (Q.S. As Syams: 9-10)
3. Selalu bersabar terhadap segala macam cobaan yang menimpa, akibat dari mengajak manusia berbuat baik dan meninggalkan perbuatan yang mungkar, baik cobaan itu dalam bentuk kesenangan dan kemegahan, maupun dalam bentuk kesengsaraan dan penderitaan.


Pada akhir ayat ini Allah menerangkan sebabnya Dia memerintahkan tiga hal tersebut di atas, yaitu karena hal-hal itu merupakan pekerjaan yang diwajibkan Allah kepada hamba-hamba Nya, amat besar faedahnya bagi yang mengerjakannya dan memberi manfaat di dunia dan di akhirat.
Penjelasan  ayat 18-19
(وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ  وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ / Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai)

Kedua ayat ini menerangkan lanjutan wasiat Luqman kepada anaknya, yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, yaitu dengan:
1. Jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, suka membangga-banggakan diri dan memandang rendah orang lain. Tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong itu ialah:
a. Bila berjalan dan bertemu dengan temannya atau orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah kepada orang yang berselisih jalan dengannya.
b. Ia berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan di jalan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda:
لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
Artinya:
Janganlah kamu berbenci-bencian, janganlah kamu berdengki-dengkia, janganlah kamu belakang membelakangi, dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.
Tidak boleh bagi seorang muslim memencilkan (tidak berbaik) dengan temannya lebih dari tiga hari.(HR. Bukhari da Muslim)
2. Hendaklah sederhana waktu berjalan, lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya. Berbicara dengan sikap keras, angkuh dan sombong itu dilarang Allah karena pembicaraan yang semacam itu tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga, seperti tidak enaknya suara keledai.
Yahya bin Jabir At Ta'i meriwayatkan dari Gudaif
 bin Haris, ia berkata: "Aku duduk dekat Abdullah bin Amr bin Al `ash, maka aku mendengar ia berkata: "Sesungguhnya kubur itu akan berbicara dengan orang yang dikuburkan di dalamnya, ia berkata: "Hai anak Adam apakah yang telah memperdayakan engkau, sehingga engkau masuk ke dalam liangku? Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku rumah tempat engkau berada sendirian? Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku tempat yang gelap? Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku rumah kebenaran? Apakah yang memperdayakan engkau sehingga engkau masuk ke dalam liangku? Sesungguhnya engkau waktu hidup menyombongkan diri".
Pada riwayat yang lain Rasulullah saw bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


Artinya:
Barangsiapa yang menjela-jelakan kainnya karena sombong. Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan sederhana dalam berjalan dun berbicara bukanlah berarti bahwa berjalan itu harus menundukkan kepala dan berbicara hendaklah dengan lunak dan di bawah-bawah, tetapi yang dimaksud ialah berjalan dan berbicara dengan sopan dan lemah lembut, sehingga orang merasa senang melihatnya.
Adapun berjalan dengan sikap gagah dan wajar, serta berkata dengan tegas yang menunjukkan suatu pendirian yang kuat, tidaklah dilarang oleh agama.
Menurut suatu riwayat dari `Aisyah ra, beliau melihat seorang laki-laki berjalan menunduk lemah, seakan-akan ia telah kehilangan kekuatan tubuhnya, maka beliaupun bertanya : "Mengapa orang itu berjalan terlalu lemah dan lambat? Seseorang menjawab: "Dia adalah seorang fuqaha yang sangat alim. Mendengar jawaban itu `Aisyah berkata: "Umar adalah penghulu fuqaha, tetapi apabila ia berjalan adalah dengan sikap yang gagah dan apabila berkata: "dia bersuara sedikit keras dan apabila ia memukul. maka pukulannya adalah keras".

F.       POKOK KANDUNGAN AYAT

1.      Mengukuhkan tauhid dan mebuang jauh kemusyrikan.
2.      Menjelaskn hikmah, yaitu syukue kepada Allah dengan mentaati dan mengingat-Nya, karena tidak bersyukur kecuali orang yang berakal dan mengerti.
3.      Disyariatkan memberikan nasihat dan pelajaran baik bagi orang tua dan muda, bagi kerabat dan bukan kerabat.
4.      Mewaspadai kemusyrikan dan kemusyrikan itu suatu kezaliman yang besar.
5.      Menjelaskan masa menyusui anak, yaitu tidak lebih dari dua tahun
6.      Menetapkan prinsip tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah dengan tidak mentaati kedua orangtua dalam hal yang tidak baik.
7.      Wajib mentaati jalan orang-orang yang beriman yang konsisten dalam mentaati Allah.
8.      Wajib selalu merasa diawasi Allah dan tidak menganggap remeh kebaikan dan keburukan walaupu kecil.
9.      Wajib menegakkan shalat, memerintahkan kebaikan, mencegah kemunkaran, serta sabar mengahadapi penderitaan karena memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran tersebut.
10.  Haram bersikap sombong dalam berjalan, wajib sederhana dalam berjalan, berbicara, sehingga tidak cepat dalam berjalan dan tidak meninggikan suara kecuali sesuai dengan kebutuhan.

G.     NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM AYAT
Yang harus ditanamkan dalam pendidikan anak adalah :
1.      Menanamkan keimanan dan ketauhidan kepada anak.
2.      Memerintahkan anak  untuk berbuat  baik kepada kedua orang tua.
3.      Menanamkan rasa diawasi Allah.
4.      Menegakkan  shalat.
5.      Melakukan amar makruf  (memrintahkan kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemunkaran).
6.      Sabar dalam menghadapi segala cobaan.
7.      Tidak bersikap sombong.
8.      Sederhana dalam berjalan dan berbicara.

(والله أعلم بالصواب)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar