Rabu, 23 Mei 2012

Iman Kepada Hari Akhir (2)


IMAN KEPADA HARI AKHIR (2)
(oleh H. Asnin Syafiuddin, Lc. MA)



Pengantar

Pada  bagian pertama sudah dipaparkan tentang pengertian  iman kepada hari akhir, dalil wajib iman kepada hari akhir, dan perhatian al-Qur’an terhadap hari akhir serta hikmahnya. Pada bagian kedua ini akan dipaparkan tentang kandungan iman kepada Hari Akhir, mulai dari fitnah kubur sampai tanda-tanda kiamat.

D.    Kandungan Iman Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir merupakan salah satu tonggak penting keimanan. Ia tidak akan terwujud sempurna kecuali dengan dua hal : pertama, seorang hamba harus mengimaninya secara garis besar. Inilah batas minimal untuk mewujudkan rukun iman yang satu ini. Kedua, ia harus mengimani berita-berita gaib yang terjadi setelah kematian yang disampaikan oleh Rasulullah. Berikut ini akan dijelaskan hal-hal penting yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw mengenai iman pada hari akhir.

1.      Fitnah (ujian) kubur
Yang dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur adalah pertanyaan yang diajukan kepada mayat ketika sudah dikubur tentang Rabb (Tuhan), agama dan nabinya. Rasulullah saw menjelaskan dalam hadits-hadits shahih bahwa manusia akan diuji di kuburnya . Seorang hamba akan ditanya, ”Siapakah Rabbmu? Apa agamamu ? Dan siapa nabimu ? “.  Orang mukmin akan mengatakan : “Tuhanku Allah, Islam agamaku dan Muhammad saw adalah nabiku”. Sedangkan orang yang ragu-ragu akan mengataaakan  : “ Aku tidak tahu, aku hanya mendengar orang mengatakan sesuatu lalu aku ikut mengatakannya “. Maka ia akan dipukul dan siksa.

 Di antara hadits yang berbicara tentang masalah ini adalah :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  :" إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ ، وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ ، وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ ، أَتَاهُ مَلَكَانِ ، فَيُقْعِدَانِهِ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ - لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ؟ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، فَيُقَالُ لَهُ : انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ ، فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا ، ( قَالَ قَتَادَةُ : وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى حَدِيثِ أَنَسٍ قَالَ ) ، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ وَالْكَافِرُ فَيُقَالُ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ : لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ ، فَيُقَالُ : لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ، وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ . (رواه البخارى ومسلم )

Dari Anas bin Malik ra ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan di dalam kuburnya dan para pengantarnya pulang, dan dia mendengar suara terompah mereka, datanglah kepadanya dua malaikat. Mereka menyuruhnya duduk seraya mengatakan : Apa yang kau katakan  tentang orang ini ? (Maksudnya Nabi Muhammad saw.). Orang mukmin mengatakan : Aku bersaksi bahwa dia adalaah hamba Allah dan utusan-Nya. Kemudian dikatakan kepadanya : Lihatlah tempat dudukmu di neraka telah Allah gantikan dengan tempat duduk di surga. Dan orang itu melihat kedua tempat itu. (Qatadah mengatakan : Diceritakan kepada kami bahwa bagi orang (yang beriman) itu kuburnya diluaskan, kemudian ia kembali kepada hadits Anas ). Adapun orang munafik dan kafir, maka dikatakan kepadanya : Apa yang kau katakan tentang orang ini ? Ia menjawab : Aku tidak tahu, aku hanya mengatakan apa yang dikatakan orang-orang. Maka dikatakan kepadanya : Kamu tidak tahu dan kamu tidak membaca. Lalu ia dipukul dengan palu besi dengan pukulan yang membuatnya menjerit, yang jeritannya dapat didengar oleh apa-apa yang ada di sekitarnya kecuali jin dan manusia “ (HR Bukhari dan Muslim).
    
2.       Siksa dan nikmat kubur

Kita wajib mengimani bahwa setelah fitnah kubur itu ada siksa dan nikmat kubur. Siksa kubur diperuntukkan bagi orang-orang zalim, yakni orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Allah berfirman  :

وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ
... alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari Ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, Karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (Perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. (QS. Al-An’am/6 : 93 ).   
Allah SWT berfirman tentang keluarga Fir’aun :
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras". ( QS. Ghafir : 46 ).
Dalam ayat itu Allah mengancam keluarga Fir’aun dengan dua macam siksaan. Siksaan pertama, siksaan pertama diisyaratkan dengan kalimat “Ditampakkan neraka kepada mereka  pada pagi dan petang “. Dan siksa kedua ditunjukkan dengan kalimat “ Dan pada hari terjadinya kiamat, (Dikatakan kepada malaikat)  Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras “. Siksa kedua di-‘athaf-kan (ditambahkan) pada siksa pertama. Maksud di-‘athaf-kan tentu saja karena yang kedua (ma’thuf) berbeda dengan yang pertama   ( ma’thuf ‘alaih). Jadi, jika siksa kedua terjadi setelah terjadinya kiamat, maka siksa pertama itu pasti terjadi antara kematian dan kebangkitan. Itulah siksa kubur.
                       
3.      Kiamat danTanda-tandanya

Kita  wajib mengimani segala yang terjadi di hari terakhir dari kehidupan dunia dan permulaan yaumul-akhir (hari akhir) sebagaimana Allah informasikan dalam al-Qur’an, terutama dalam surat al-Takwir dan al-infithar. Semua ayat-ayat itu menjelaskan  bahwa hari akhir  bermula dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh dalam alam semesta ini : langit terbelah, bintang-bintang berhamburan, planet-planet bertabrakan, bumi luluh lantah, dan kembali menjadi hamparan yang gersang, gunung-gunung menjadi bagaikan tumpukan pasir  yang berhamburan, segala sesuatu menjadi rusak, dan segala yang diketahui manusia di dunia ini menjadi hancur.
Itu semua terjadi setelah tiupan pertama yang dilakukan oleh Israfil atas perintah Allah. Maka matilah seluruh  yang ada di  langit dan bumi, kecuali yang dikehendaki Allah. Firman Allah SWT. :
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah  siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu putusan masing-masing.  (QS. Al-Zumar/39 : 68)
Hari Kiamat pasti terjadi, namun tentang waktunya tidak ada yang mengetahui kecuali Allah.    Allah menyembunyikan hal tersebut dari segenap manusia. Allah berfirman :
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat. 'Bilakah terjadinya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba'. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Al-A'raf/7 : 187
Sekalipun waktu terjadinya hari kiamat tidak ada yang tahu, namun Allah memberikan tanda-tanda terjadinya sebagaimana disebutkan dalam  hadits-hadits dari Rasulullah SAW.
Dalam hadits shahih dari Rasulullah SAW disebutkan bahwasanya beliau menyebutkan beberapa tanda-tanda kecil akan datangnya hari Kiamat yang sebagian besar seputar kerusakan manusia, timbulnya fitnah antar mereka dan penyimpangan mereka dari jalan Allah yang lurus.
Di antara tanda-tanda kecil hari Kiamat yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jibril ra, di mana ia bertanya kepada Rasulullah tentang hari Kiamat, maka beliau menjawab:
" مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ " ، قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا ، قَالَ : " أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا ، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ " .
"Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya". Jibril berkata: "Kalau begitu, beritahukanlah kepada tentang tanda-tandanya?" Beliau menjawab: "Yaitu ketika budak wanita melahirkan tuannya, dan engkau lihat orang yang tidak beralas kaki, berpakaian compang-camping, fakir, sebagai penggembala kambing, berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan." (HR. Muslim).
Di antara tanda-tanda kecil lain akan datagnya hari Kiamat adalah bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. Tentang hari kiamat, beliau menjawab:
" فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ " ، قَالَ : كَيْفَ إِضَاعَتُهَا ؟ قَالَ : " إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ " .
Apabila amanat ditinggalkan maka tunggulah kedatangan Kiamat! Orang itu bertanya : Dan bagaimana ditinggalkannya amanat itu?' Beliau saw.  Bersabda : “ Jika suatu perkara disandarkan kepada selain ahlinya maka tunggulah kedatangan Kiamat'." (HR. Al-Bukhari).
Di antara tanda-tanda kecil lain adalah yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh  Imam Muslim melalui sanadnya dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda :
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلُ المُسْلِمُوْنَ اليَهُوْدَ فَيَقْتُلَهُمُ المُسْلِمُوْنَ حَتَّى يَخْتَبِىءَ اليَهُوْدِيُّ مِنْ وَرَاءِ الحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُوْلُ الحَجَرُ وَالشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُوْدِيٌّ خَلْقِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلاَّ الغَرْقَدُ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ اليَهُوْدِ .
“Tidak akan terjadi Kiamat sebelum orang Islam memerangi orang Yahudi. Maka orang Islam membunuh mereka sampai orang Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon, maka batu dan pohon itu berkata, ‘Ya muslim, wahai hamba Allah, inilah orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah,’ kecuali pohon gharqad, karena sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi.” (HR.  Muslim).

Di antara tanda-tanda kecil lain adalah yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh  Imam al-Bukhari melalui sanadnya dari Anas bahwa Nabi saw bersabda :
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يُرْفَعَ العِلْمُ وَيَثْبُتَ الجَهْلُ ، وَيُشْرَبَ الخَمْرُ ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا .
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu, merajalelanya kebodohan, diminumnya khamr dan merebaknya zina.”

Di antara tanda-tanda kecil lain adalah yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim melalui sanadnya  dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda :
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيْمَتَانِ ، يَكُوْنُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيْمَةٌ ، دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ . وَحَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ ، قَرِيْبٌ مِنْ ثَلاَثِيْنَ ، كُلُّهَمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ ، وَحَتَّى يُقْبَضَ العِلْمُ وَتَكْثُرُ الزَّلاَزِلُ ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ ، وَتَظْهَرَ الفِتَنِ ، وَيَكْثُرَ الهَرْجُ ، وَهُوَ القَتْلُ . وَحَتَّى يَكْثُرَ فِيْكُمْ المَالِ ، فَيَفِيْضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ المَالِ مَنْ يَقْبَلْ صَدَقَتَهُ ، وَحَتَّى يَعْرِضَهُ ، فَيَقُوْلُ الّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ : لاَ أَرَبَ لِي بِهِ . وَحَتَّى يَتَطَاوَلَ النَّاسُ فِي البُنْيَانِ . وَحَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ : يَا لَيْتَنِي مَكَانَه .
“Kiamat tidak terjadi sehingga ada dua kelompok besar bertikai yang memakan korban besar, seruan keduanya satu, dan sehingga muncul para Dajjal pembual besar mendekati 30, semuanya mengaku sebagai rasul Allah dan sehingga ilmu diangkat, gempa terjadi dalam jumlah besar, zaman menjadi dekat, fitnah besar muncul dan pembunuhan merajalela, sehingga harta melimpah di kalangan kalian, ia melimpah sehingga pemilik harta mencari-cari siapa yang menerima sedekahnya, dan sehingga dia menawarkannya maka orang yang ditawari berkata, ‘Aku tidak memerlukannya,’ sehingga manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan dan sehingga seseorang melewati kubur orang lain dan dia berkata, ‘Seandainya aku yang menggantikannya’.”
Adapun tanda-tanda besar kiamat yaitu tanda-tanda dekat dan besar yang kemudian diikuti datangnya Kiamat. Dalam beberapa hadits shahih disebutkan sepuluh dari tanda-tanda besar tersebut seperti dalam hadits di bawah ini : Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari, di mana ia berkata:
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ قَالَ:  اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ ، فَقَالَ : " مَا تَذَاكَرُونَ " ، قَالُوا : نَذْكُرُ السَّاعَةَ ، قَالَ : " إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ " ، فَذَكَرَ الدُّخَانَ ، وَالدَّجَّالَ ، وَالدَّابَّةَ ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا ، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ ، وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ :  خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ . (رواه مسلم )
Dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari,  ia berkata : Nabi SAW muncul kepada kami sedang kami dalam keadaan berbincang-bincang. Beliau bertanya: "Apa yang sedang kalian perbincangkan?" Mereka menjawab, "Kami sedang membicarakan hari Kiamat". Beliau bersabda: "Sesungguhnya Kiamat itu tidak akan terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda." Lalu beliau menyebutkan asap, Dajjal, dabbah (binatang melata), terbitnya matahari dari Barat, turunnya Isa bin Maryam, Ya'juj Ma'juj, tiga pembenaman :  di timur, di barat, dan di jazirah Arab, dan yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke Mahsyar (tempat berkumpul) mereka." (HR. Muslim).
Di bawah ini kita akan membicarakan sebagian dari  tanda-tanda besar tersebut.
a.      Asap
Di antara tanda-tanda kiamat kubro adalah munculnya asap sebelum hari kiamat yang memenuhi bumi, sehingga ia seperti sebuah rumah yang di dalamnya dinyalakan kayu bakar, ia menyerang orang-orang mukmin seperti influensa, dan masuk ke dalam jasad orang-orang kafir dan munafik melalui lubang tubuh mereka, maka mereka menggelembung sehingga ia keluar dari pendengaran mereka.
Munculnya tanda kiamat ini dinyatakan oleh al-Qur’an dan sunnah Nabi saw dan sudah menjadi kesepakatan umat.
Adapun dalil dari al-Qur’an maka firman Allah swt, :
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ (10) يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (11) رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ (12) أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ (13) ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ (14) إِنَّا كَاشِفُو الْعَذَابِ قَلِيلًا إِنَّكُمْ عَائِدُونَ (15) يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ (16)
Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami adzab itu. Sesungguhnya kami akan beriman’. Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan, kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata, ‘Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila. Sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu kamu akan kembali (ingkar). (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan.” (QS. ad-Dukhan/44: 10-16).
Adapun dalil as-sunnah adalah  hadis yang disebutkan di atas.
Mengenai ijma’ maka umat Islam telah bersepakat bahwa dukhan adalah salah satu tanda Kiamat. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang bentuk kabut ini. Apakah tanda ini telah terjadi dan berlalu atau ia belum terjadi?
Pendapat yang rajih adalah yang menyatakan bahwa dukhan ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang dikirim kepada hamba-hamba-Nya dan ia belum tiba. Ini adalah pendapat Ali bin Abu Thalib, Abu Said al-Khudri, Ibnu Abbas dan jumhur Salaf seperti Hasan al-Bashri dan lain-lainnya.
Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim berkata, “Sabdanya saw tentang tanda-tanda Kiamat, ‘Kiamat tidak datang sehingga sebelumnya kalian melihat sepuluh tanda, di antaranya dukhan dan Dajjal.” Hadits ini mendukung pendapat yang mengatakan bahwa dukhan adalah dukhan yang menyerang nafas orang-orang kafir dan menyerang orang mukmin dalam bentuk influensa dan bahwa ia belum tiba, ia akan terjadi menjelang hari Kiamat. Dan telah dijelaskan dalam kitab Bad’ul Khalqi ucapan orang yang mengatakan ini dan pengingkaran Ibnu Mas’ud kepadanya, di mana Ibnu Mas’ud menyatakan bahwa itu adalah ibarat kekeringan yang menimpa Quraisy sehingga mereka melihat di langit seperti ada kabut. Pendapat Ibnu Mas’ud ini diikuti oleh beberapa kalangan. Sementara pendapat yang lain dinyatakan oleh Hudzaefah, Ibnu Umar dan Hasan. Dan Hudzaefah meriwayatkan dari Nabi saw bahwa dukhan ini berlangsung selama 40 hari. Dan bisa jadi itu adalah dua Dukhan untuk menggabungkan antara atsar-atsar yang ada.” Wallahu a'lam.
b.      Dajjal
Di antara tanda-tanda tersebut adalah muculnya Dajjal. Dajjal adalah sumber kekufuran dan kesesatan, asal segala fitnah dan ketakutan, para nabi telah memperingatkan dan meminta kaumnya waspada dari padanya serta menyebutkan ciri-ciri yang nyata darinya dan sifat-sifatnya yang jelas. Nabi saw.  telah memperingatkan kita dari padanya serta memberikan ciri-ciri yang tidak akan tersembunyi bagi orang yang memiliki penglihatan.
Dari Anas ra., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda :
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الْأَعْوَرَ الْكَذَّابَ ، أَلَا إِنَّهُ أَعْوَرُ ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ ، وَمَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر . (رواه البخاري و مسلم ، واللفظ لمسلم )
"Tidak seorang nabi pun kecuali telah mengingatkan umatnya dari yang buta sebelah dan pendusta (Dajjal). Ketahuilah sesungguhnya di adalah buta sebelah dan sungguh Rabbmu tidak buta sebelah, sedang di antara kedua mata Dajjal itu tertulis ka-fa-ra (kafir)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا عَنْ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّهُ يَجِيءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَالَّتِي يَقُولُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ وَإِنِّي أُنْذِرُكُمْ كَمَا أَنْذَرَ بِهِ نُوحٌ قَوْمَهُ  . (رواه البخاري و مسلم )
"Ketahuilah, aku akan menceritakan kepada kalian tentang Dajjal sebagaimna apa yang diceritakan oleh nabi kepada kaumnya, sesungguhnya dia adalah buta sebelah, dan sungguh ia datang dengan membawa seperti surga dan neraka, sedang apa yang dikatakannya surga sesungguhnya adalah neraka, dan sungguh aku mengingatkan kalian sebagaimana Nuh mengingatkan kaumnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dan tidaklah bisa selamat dari fitnah Dajjal kecuali dengan ilmu dan amal. Adapun dengan ilmu yaitu harus diketahui bahwa Dajjal itu memiliki fisik dan memerlukan makan serta minum, kemudian karena kenistaan dan kelemahannya ia adalah buta sebelah, dan terukir di antara kedua matanya (tulisan) bahwa sesungguhnya di adalah kafir. Adapun dengan amal, maka hendaknya berlindung kepada Allah dari fitnahnya ketika tasyahhud akhir setiap shalat, dan hendaknya dihafal sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi, sebagaimana sabda Nabi SAW:
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْف عُصِمَ مِنْ الدَّجَّالِ . (رواه مسلم)
"Barangsiapa hafal sepuluh ayat dari awal surat Al-Kahfi, niscaya ia diperlihara dari (fitnah) Dajjal." (HR. Muslim).
c.       Dabbah (Binatang melata)
Di antara tanda Kiamat kubro –setelah pintu taubat ditutup dengan terbitnya matahari dari barat– adalah keluarnya binatang bumi yang lain dari biasanya, di mana ia bisa berbicara kepada manusia dan memilah-milah mana mukmin dan mana kafir untuk melengkapi maksud ditutupnya pintu taubat.
Munculnya tanda ini sama dengan tanda-tanda yang lain berdasar kepada al-Qur’an dan sunnah.
Firman Allah :
وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ
Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. ( QS. An-Naml/27 : 82)
Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Zur’ah berkata, Ada tiga orang kaum muslimin yang duduk di sisi Marwan bin al-Hakam, mereka mendengarnya –sementara dia menyinggung tanda-tanda Kiamat– menyatakan bahwa Dajjal adalah tanda pertama yang muncul. Maka Abdullah bin Amru berkata, “Marwan tidak mengucapkan apa-apa, saya telah menghafal suatu hadits dari Rasulullah saw yang tidak aku lupakan sesudah aku mendengarnya dari beliau, beliau bersabda, ‘Tanda yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat dan munculnya binatang bumi kepada manusia di waktu Dhuha. Apa pun dari keduanya mendahului yang lain maka yang lain menyusul tidak lama kemudian’.”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ سِتًّا الدَّجَّالَ، وَالدُّخَانَ، وَدَابَّةَ الأَرْضِ، وَطُلُوْعَ الشَمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَأَمْرَ العَامَّة، وَخُوَيِّصَةَ أَحَدِكُمْ.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Bersegeralah berbuat baik sebelum datangnya enam perkara: Dajjal, dukhan, binatang bumi, terbitnya matahari dari barat, Kiamat dan kematian salah seorang dari kalian.” (HR. Muslim)

Di antara sifat binatang yang dijadikan oleh Allah sebagai salah satu tanda Kiamat adalah bentuk dan perbuatannya yang lain dari biasanya, ia bisa berbicara dan berdialog dengan manusia dan dia memberi cap iman atau kufur kepada mereka.
Sebagaimana keterangan yang ada di dalam hadits Abu Umamah bahwa Rasulullah bersabda, “Binatang bumi itu keluar maka ia memberi cap kepada manusia di wajah mereka. Kemudian jumlah mereka meningkat sehingga seseorang membeli onta dia ditanya, ‘Dari siapa kamu membeli onta itu?’ Dia menjawab, ‘Dari salah seorang yang dicap wajahnya…’.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah nomor 322).
Keterangann lebih dari ini tentang sifat-sifat dan ciri-ciri binatang ini maka ia hanyalah perkakataan orang-orang tertentu yang perlu dibuktikan dengan hadits yang shahih dari Rasulullah saw, jika tidak maka cukuplah hadits shahih sebagai pemberi keterangan, selebihnya wallahu a'lam.
Binatang apakah ini? Banyak sekali pendapat tentangnya di mana satu sama lainnya saling berselisih. Para pengikut hawa nafsu berusaha membelokkan nash ke arah yang sesuai dengan akidah dan hawa nafsu mereka, maka ada yang mengatakan bahwa binatang ini adalah Ali bin Abu Thalib, bahwa dia akan kembali ke dunia dengan sifatnya. Ada yang mengatakan ia adalah ular yang berada di sumur Makkah. Ada yang mengatakan ia adalah Jassasah yang ada di laut Qalzam. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah anak onta Nabi Shalih, ketika induknya dibunuh ia kabur kemudian ada batu yang terbuka lalu dia masuk ke dalamnya, kemudian ia kembali tertutup maka anak onta ini berada di situ sampai akhirnya ia keluar dalam bentuk binatang ini. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah bibit penyakit. Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat lain tetapi semua itu tidak berdasar kepada sandaran yang shahih bahkan tidak pula dhaif.
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad berkata, “Ayat Al-Qur’an secara jelas mengatakan dengan bahasa Arab bahwa ia adalah “دابة ”, dan artinya jelas dan dikenal dalam bahasa Arab, tidak diperlukan ta’wil. Hadits telah menjelaskan perbuatannya. Dan banyak sekali hadits-hadits baik yang shahih atau lainnya yang menyatakan datangnya tanda Kiamat ini (binatang bumi) dan bahwa ia keluar di akhir zaman. Dan terdapat atsar-atsar yang menjelaskan sifatnya tetapi ia tidak dinisbatkan kepada Rasulullah saw sebagai penyampai dari Tuhannya dan penjelas bagi ayat-ayat kitabNya, maka tidak apa-apa apabila kita meninggalkannya. Silakan melihat –sebagai contoh– Tafsir Ibnu Katsir (6/305-310).
Akan tetapi sebagian orang di zaman ini yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, di mana ucapan yang mungkar dan akal yang rusak menguasai mereka, mereka tidak ingin beriman kepada perkara ghaib, mereka hanya mau beriman kepada sesuatu yang riil yang telah digariskan oleh guru dan teladan mereka dari kalangan Eropa penyembah berhala, para pengikut madzhab permisif, yang membuang segala agama dan akhlak, mereka ini tidak bisa beriman kepada apa yang kita imani, mereka juga tidak bisa mengingkari secara jelas maka mereka kehilangan kontrol, kebingungan dan berpura-pura. Selanjutnya mereka menta’wilkannya, membelokkan ucapan dari makna asli yang sebenarnya berdasarkan bahasa Arab, mereka merubahnya sebagai rumus (teka-teki), hal itu karena pengingkaran yang bercokol di dalam jiwa mereka.
Lebih dari itu sebagian dari mereka menukil ta’wil dari seorang dari India yang dikenal dari kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Islam, padahal ia adalah musuh utama Islam dan kaki-tangan para penjajah, musuh-musuh Islam. Lihatlah orang-orang seperti ini, dari sumber manakah mereka berkoar-koar? Dan berpijak kepada apa mereka bertindak? Neraka mana lagi yang mereka masuki? Semua itu karena mereka tidak meyakini ayat-ayat Allah.”
d.      Terbitnya matahari dari Arah Barat
Terbitnya matahari dari timur dan terbenam di barat merupakan sunnatullah terhadap alam semesta, akan tetapi hikmah Allah yang bijak telah berkehendak untuk menjadikan terbitnya matahari dari barat sebagai salah satu tanda yang jelas akan datangnya Kiamat.
Terbitnya matahari dari barat –sama dengan tanda-tanda Kiamat yang lain– adalah perkara yang telah ditetapkan oleh al-Kitab, sunnah dan ijma’. Firman Allah, :
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula)". (QS. Al-An’am/6 : 158)
Jumhur ahli tafsir telah menyepakati bahwa sebagian tanda-tanda di dalam ayat itu adalah terbit matahari dari arah barat.
Adapun dalil sunnah di antaranya sebagaimana telah disebutkan di atas.
Umat Islam secara keseluruhan telah ber-ijma’ bahwa terbitnya matahari dari barat adalah salah satu tanda Kiamat kubro berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan jelas begitu pula al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi saw.
Kesimpulan yang diambil dari ayat yang mulia dan hadits-hadits yang disebutkan di atas, dan hadits-hadits lain yang senada bahwa apabila matahari telah terbit dari barat maka iman yang terjadi pada hari itu tidaklah berguna bagi orang yang sebelumnya musyrik atau kafir, tidak pula taubat yang dilakukan pada waktu itu bagi orang yang beriman tetapi sebelumnya dia melakukan kemaksiyatan, kebaikan yang dilakukan sesudah itupun tidaklah berguna. Imannya yang terdahulu menjaganya dari kekekalan di dalam Neraka, jika dia masuk ke dalamnya maka karena dosa-dosanya. Adapun pemilik iman terdahulu, tetapi tidak murni, maka imannya berguna untuk dirinya begitu pula amal-amal yang menyertainya yang dikerjakannya. Yang ditolak adalah taubatnya saat itu dari imannya yang bercampur dengan kemaksiyatan, begitu pula orang yang sebelumnya tidak beriman dan beramal shalih, maka iman dan amal shalih yang tiba-tiba dilakukan pada saat itu tidaklah diterima.
Adapun orang mukmin yang telah bertaubat dari kemaksiyatan dan telah mengerjakan kebaikan semampunya, maka imannya ini berguna baginya demi keselamatannya dan amal shalihnya berguna baginya demi derajatnya dan kebaikan yang dia kerjakan setelah itu, di mana sebelumnya dia telah melaksanakannya, ia juga berguna baginya.
Kaidah syar’i dalam masalah ini : Setiap kebaikan yang tiba-tiba dilaksanakan di mana pendorongnya adalah dilihatnya matahari terbit dari arah barat dan juga pelakunya tidak pernah melaksanakannya sebelumnya, maka ia tidak berguna, baik kebajikan itu termasuk ushul (pokok) ataupun furu (cabang). Sebaliknya semua kebaikan di mana pelakunya telah melaksanakannya sebelum dia melihat tanda ini maka ia berguna.
Allamah Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah menjelaskan alasan ditolaknya iman pada hari itu, dia berkata, “Para ulama berkata, ‘Iman tidak berguna bagi pemiliknya pada waktu matahari terbit dari barat karena ketakutan hebat yang menyelimuti hatinya. Di mana ketakutan ini memadamkan semua syahwat jiwa dan meluruhkan seluruh kekuatan tubuh. Maka seluruh manusia –karena mereka telah yakin Kiamat di ambang pintu– menjadi seperti orang di mana kematian telah berada di pelupuk mata. Dalam kondisi demikian dorongan-dorongan kepada kemaksiyatan telah hilang dan luruh dari mereka. Maka barangsiapa bertaubat dalam kondisi ini maka taubatnya tidak diterima sebagaimana taubat orang yang maut telah berada di pelupuk matanya’.”
Hafizh Ibnu Katsir dalam An-Nihayah berkata, “Hadits-hadits yang mutawatir ini bersama ayat yang mulia merupakan dalil bahwa siapa yang baru beriman dan bertaubat pada saat matahari terbit dari barat maka ia tidak diterima darinya. Hal itu demikian –wallahu a’lam– karena ia adalah tanda Kiamat terbesar yang menunjukkan kedekatannya, maka hari itu diperlakukan seperti hari Kiamat.
e.       Turunnya Isa bin Maryam
Termasuk tanda Kiamat kubro adalah turunnya Nabiyullah Isa putra Maryam dari langit. Turunnya Isa bin Maryam dari langit telah tertulis di dalam al-Qur’an al-Karim dan sunnah yang suci. Umat Muhammad saw telah menyepakatinya.
وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا
Tidak ada seorangpun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS. An-Nisa’/4 : 159)
Yakni mereka pasti beriman kepada Isa sebelum wafatnya setelah dia turun dari langit di akhir zaman sehingga agama menjadi satu yaitu agama Ibrahim yang lurus. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang tafsir ayat di atas dengan sanad yang shahih sebagaimana hal itu disebutkan oleh Ibnu Katsir dan imam-imam tafsir yang lain.
Di dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, :
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ
“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh telah dekat saatnya di mana Ibnu Maryam turun di antara kalian sebagai hakim yang adil, dia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, dan harta benda melimpah sehingga tidak seorang pun yang menerimanya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, “Sehingga satu kali sujud lebih baik daripada dunia dengan segala isinya.” Kemudian Abu Hurairah berkata, “Bacalah jika kalian mau, ‘Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepada Isa sebelum kematiannya’.”
Adapun ijma’ maka umat Muhammad saw telah bersepakat atas turunnya Isa, tidak ada yang menyelisihi dalam hal ini. Ijma’ telah tercapai bahwa Isa turun dan berhukum kepada Islam bukan kepada syariat tersendiri walaupun dia tetap menjadi nabi. Di depan telah disinggung bahwa dia turun dan shalat sebagai makmum di belakang al-Mahdi sebagai bentuk penghormatan kepada umat ini. Kemudian Isa menerima kepemimpinan dari tangan al-Mahdi dan al-Mahdi menjadi pengikutnya dan membantunya membunuh al-Masih ad-Dajjal.
Mengapa Isa disebut dengan al-Masih ? Ada yang berkata, Nabiyullah Isa dinamakan al-Masih karena usapan Zakariya kepadanya. Ada yang mengatakan karena dia mengusap bumi yakni memotongnya. Ada yang mengatakan karena dia mengusap orang sakit lalu dia sembuh. Ada yang mengatakan dari ‘Samahah’ (kedermawanan). Ada pula yang mengatakan lain dari semua itu… yang jelas terdapat perbedaan yang besar antara Isa Masih al-Huda dengan Masih ad-Dajjal.
Nama al-Masih untuk Isa tertulis di dalam al-Qur’an al-Karim dan sunnah nabawiyah yang suci. Dari Al-Qur’an firman Allah swt, “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam’.” (QS. al-Maidah/5 : 17).
Di dalam Shahih Muslim dari hadits Nawas bin Sam’an, Nabi saw bersabda, “…ketika Dajjal dalam kondisi demikian, Allah mengutus al-Masih bin Maryam.”
Dan banyak hadits-hadits lain.
Adapun sifat-sifatnya maka Nabi kita saw telah menyatakan bahwa Isa adalah laki-laki berperawakan sedang tidak tinggi tidak pendek, berwajah bulat, berkulit kemerah-merahan, berdada lapang, orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah bin Mas’ud ast-Tsaqafi.
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Antara diriku dengan Isa tidak ada nabi, dan sesungguhnya dia pasti turun. Jika kalian melihatnya maka kenalilah dia. Sesungguhnya dia berperawakan sedang, putih kemerah-merahan, dia turun di antara dua potong baju berwarna kekuning-kuningan, kepalanya seolah-olah menetes walaupun tidak basah, dia memerangi manusia di atas Islam, lalu dia mematahkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah. Pada masanya Allah menghancurkan semua agama kecuali Islam, dia membunuh al-Masih ad-Dajjal kemudian tinggal di bumi selama 40 tahun kemudian wafat dan kaum muslimin menshalatkannya.” (HR. Abu Dawud, al-Hakim dan Ibnu Khuzaemah)
Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda, “Pada malam Isra’…. Dan saya bertemu dengan Isa. Lalu Nabi saw menjelaskan ciri-cirinya, ‘Orangnya sedang, kulitnya kemerah-merahan, seolah-olah dia habis mandi, saya melihatnya…’.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)
Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Saya bertemu dengan para nabi, ternyata Musa…. Saya aku melihat Isa bin Maryam, ternyata orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah bin Mas’ud….” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)
Dari Abdullah bin Abbas Rasulullah saw menceritakan malam Isra’nya, beliau bersabda, “Saya melihat Isa berperawakan sedang kemerah-merahan berambut lurus….” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Adapun tempat dan waktu turunnya maka ia di menara putih sebelah timur Damaskus dengan meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap-sayap dua malaikat, ini terjadi pada waktu fajar di mana kaum muslimin telah mengambil shaf untuk shalat, imam mereka telah maju –seorang laki-laki shalih, sepertinya al-Mahdi– untuk menjadi imam, ketika dia mengetahui Isa turun, dia mundur, dia meminta Isa untuk menjadi imam, tetapi Isa menolak. Akhirnya al-Mahdi shalat sebagai imam dan Isa shalat sebagai makmum sebagai penghormatan kepada umat ini.
Dari Nawas bin Sam’an –hadits tentang Dajjal– Rasulullah bersabda, “…lalu Isa turun di menara putih sebelah timur Damaskus dengan memakai dua potong baju yang dicelup za’faran dan wars, dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas sayap-sayap dua malaikat, jika dia menundukkan kepalanya maka menetes dan jika dia mengangkatnya maka turunlah air seperti mutiara. Maka tidak ada seorang kafir pun yang mencium aroma nafasnya kecuali dia pasti mati dan nafasnya tercium dari jarak sejauh pandangannya….”
Dari Jabir bin Abdullah bahwa dia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Akan selalu ada dari umatku sekelompok orang yang berperang di atas kebenaran dengan kemenangan sampai hari Kiamat. Lalu Isa bin Maryam turun, pemimpin mereka berkata, ‘Kemarilah, shalatlah untuk kami sebagai imam.’ Isa menjawab, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian di antara kalian adalah pemimpin sebagian yang lain’. Hal itu sebagai penghormatan Allah kepada umat ini.” (HR. Muslim)
Hafizh Ibnu Katsir dalam an-Nihayah berkata, “Inilah pendapat yang lebih masyhur tentang tempat turunnya Isa, yaitu di menara putih di timur Damaskus. Dan saya telah melihat di sebagian buku bahwa Isa turun di menara putih sebelah timur Jami’ Damaskus. Mungkin inilah yang lebih valid dan bunyi riwayatnya, ‘Maka dia turun di atas menara putih yang ada di timur Damaskus’. Jadi rawi membuat redaksi sendiri sesuai dengan apa yang dia pahami. Dan di Damaskus tidak ada menara yang dikenal dengan menara timur kecuali menara yang berada di timur Jami’ Umawi dan inilah yang lebih cocok dan lebih sesuai karena Isa turun pada saat didirikannya shalat…” (An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim I/192)
Semua itu terjadi dalam kondisi kaum muslimin sedang bersiap siaga berperang melawan Dajjal, berdasarkan hadits Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “…ketika mereka sedang bersiap-siap untuk berperang, mereka merapatkan barisan, lalu didirikanlah shalat, maka Isa As turun dan memimpin mereka. Ketika musuh Allah melihatnya dia mencair seperti garam yang mencair bersama air, seandainya dia dibiarkan niscaya dia akan lumer sampai dia binasa, akan tetapi Allah ingin membunuhnya melalui tangannya, lalu dia menunjukkan darahnya di tombaknya kepada kaum Muslimin.” (HR. Muslim).
Adapun keberadaan al-Masih di bumi, Nabi kita Muhammad saw telah memberitahukan kepada kita bahwa keberadaan Isa di muka bumi selama 40 tahun. Setelah itu dia wafat dan kaum muslimin menshalatkannya, sebagaimana termaktub dalam hadis shahih dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “…Kemudian dia tinggal di bumi selama 40 tahun kemudian wafat dan kaum muslimin menshalatkannya.” (HR. Abu Dawud 324, dishahihkan oleh as-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir no.5265).
Adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi di zaman Isa dan tugas-tugas yang ditunaikannya, maka ia sebagai berikut:
1)      Memadamkan Dajjal dan fitnahnya
Di depan kita telah mengetahui bahwa Nabiyullah Isa bin Maryam turun sementara kaum muslimin sedang bersiap-siap memerangi Dajjal. Kita mengetahui bahwa saat itu shalat didirikan, lalu Isa shalat di belakang seorang laki-laki yang shalih. Ketika Dajjal mengetahui turunnya Isa, dia kabur. Nabiyullah Isa mengejarnya sampai di Baitul Maqdis, sementara Dajjal telah mengepung sekelompok kaum muslimin. Lalu Isa memerintahkan mereka agar pintunya dibuka. Dajjal yang bersembunyi di belakangnya segera berlari, lalu Nabiyullah Isa mengejarnya dan menangkapnya di pintu Lud, termasuk wilayah Palestina, sebelah timur. Kemudian Isa membunuhnya beserta orang-orang Yahudi yang bersamanya.
Di dalam hadits shahih dari Abu Umamah berkata, Rasulullah saw bersabda, “…Ketika imam mereka maju ke depan untuk shalat Shubuh, maka turunlah Isa bin Maryam lalu imam itu mundur berjalan ke belakang supaya Isa maju menjadi imam. Isa meletakkan tangannya di antara kedua pundaknya kemudian dia berkata, ‘Majulah dan shalatlah karena shalat ini didirikan untukmu’. Lalu imam mereka shalat dengan mereka. Selesai shalat Isa berkata, ‘Buka pintunya’. Lalu mereka membuka pintu di mana Dajjal bersembunyi di belakangnya ditemani 70 ribu orang Yahudi, masing-masing dengan pedang yang berhias dan jubah (mantel). Apabila Dajjal melihat kepadanya maka ia meleleh (mencair) seperti garam yang mencair di air. Dajjal kabur. Isa AS berkata, ‘Sesungguhnya aku mempunyai pukulan untukmu, kamu tidak akan mendahuluiku dengannya. Isa menangkap Dajjal di pintu Lud sebelah timur lalu membunuhnya. Lalu Allah mengalahkan orang-orang Yahudi, maka tidak ada satu pun makhluk Allah awj yang digunakan oleh orang-orang Yahudi sebagai tempat persembunyian kecuali Allah menjadikannya berbicara. Batu, pohon, dinding, hewan semuanya berbicara kecuali gharqadah, ia tidak berbicara karena ia adalah pohon mereka. Semuanya berkata, ‘Wahai hamba Allah yang muslim, ini orang Yahudi kemarilah bunuhlah dia’.” (HR. Ibnu Majah no. 4128. dan al-Hakim 4/436-437, dia menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi).
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “…Ketika mereka sedang bersiap-siap untuk perang dan merapatkan barisan, tiba-tiba shalat dikumandangkan, lalu Isa bin Maryam as turun. Apabila musuh Allah melihatnya maka dia meleleh seperti garam di dalam air, seandainya dibiarkan niscaya dia pasti meleleh sehingga dia binasa, akan tetapi Allah membunuhnya lewat tangan Isa. Lalu Isa memperlihatkan darahnya di tombaknya kepada mereka.” (HR. Muslim no.2897)
Jadi tugas pertama Nabiyullah Isa setelah dia turun dari langit adalah menangani dan memadamkan Dajjal bersama orang-orang Yahudi yang mengikutinya.
2)      Binasanya Ya’juj Ma’juj berkat doa Isa dan kawan-kawan
Mereka keluar pada zaman Isa as, setelah dia berhasil membunuh Dajjal dan memadamkan fitnahnya. Mereka ini membuat kerusakan besar di muka bumi. Lalu Nabiyullah Isa dan teman-temannya berdoa kepada Allah Taala. Mereka kemudian binasa secara menyeramkan. Hal ini termaktub dalam hadits Nawas bin Sam’an yang diriwayatkan oleh Muslim dalam hadits yang panjang tentang munculnya Dajjal dan turunnya Isa, yang akan disebutkan dalam pembahasan tentang Ya`juj dan Ma`juj.
3)      Memadamkan semua syariat dan berhukum kepada Islam
Tidak diragukan bahwa Isa ketika turun dari langit, dia mengikuti syariat Islam, berhukum kepada kitabullah dan sunnah Nabi kita Muhammad saw. Dengan itu Isa memadamkan semua syariat yang dijadikan pegangan oleh manusia kecuali syariat Islam. Ini adalah perkara pokok yang secara jelas diketahui dalam agama dimana syariat Islam adalah syariat yang me-nasakh seluruh syariat sebelumnya. Dan Allah Taala telah mengambil sumpah dan janji atas seluruh nabi agar mereka beriman kepada Muhammad saw dan mengikutinya jika Muhammad saw diutus sementara mereka masih hidup.
Firman Allah, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya’. Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui’. Allah berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu’.” (QS. Ali Imran/3 : 81).
Oleh karena itu dia menghancurkan lambang Nashrani (salib) yang menyimpang, membunuh babi yang diharamkan di dalam kitabullah dan menghapus jizyah di mana dia tidak menerima dari orang Yahudi dan Nashrani kecuali Islam atau mati.
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Demi dzat yang jiwaku di tangan-Nya, telah dekat masanya di mana Ibnu Maryam turun kepada kalian sebagai hakim yang adil, lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapuskan jizyah.”
Dalam riwayat lain, “Bagaimana kalian jika Ibnu Maryam turun kepada kalian lalu dia memimpin kalian dari kalian.” Ibnu Abu Dziib bertanya kepada Al-Walid bin Muslim, rawi hadits dari Ibnu Abi Dziib, “Tahukah kamu apa maksud ‘memimpin kalian dari kalian’?” Walid menjawab, “Beritahukan kepadaku.” Ibnu Abi Dziib berkata, “Memimpin kalian dengan kitabullah dan sunnah Nabi kalian.” (HR. Muslim no. 155).
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Di antara diriku dengan Isa tidak ada nabi, dan sesungguhnya dia pasti turun. Jika kalian melihatnya maka kenalilah dia, sesungguhnya dia berperawakan sedang, berkulit putih kemerah-merahan dia turun di antara dua potong baju berwarna kekuning-kuningan, kepalanya seolah-olah menetes walaupun tidak basah, dia memerangi manusia di atas Islam dia mematahkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah pada masanya Allah menghancurkan semua agama kecuali Islam. Dia membunuh Al-Masihud Dajjal, kemudian tinggal di bumi selama 40 tahun kemudian wafat dan kaum muslimin menshalatkannya.”
4)      Menghapus kebencian dan permusuhan di antara manusia dan meratanya rasa aman dan kemakmuran di antara manusia
Di antara perkara yang disampaikan oleh Nabi saw kepada kita yang terjadi di zaman Isa adalah dihapuskannya permusuhan, kebencian dan saling iri di antara manusia, di mana manusia telah bersepakat di atas kalimat Islam. Berkah dan kebaikan merata di mana bumi menumbuhkan pohon-pohon seperti pada masa Adam, tidak ada yang menerima pemberian karena melimpahnya harta. Pada masa itu Allah melenyapkan racun dari binatang-binatang beracun sehingga anak-anak bermain-main dengan ular dan kalajengking yang tidak lagi berbahaya. Seekor kambing digembalakan di samping srigala dengan aman. Bumi dipenuhi rasa aman dan damai, tidak ada lagi perang, maka harga kuda turun drastis sementara sapi jantan harganya melambung tinggi karena semua tanah dibajak untuk ditanami.
Dalam hadits Nawas bin Sam’an, Rasulullah saw bersabda, “…Kemudian Allah menurunkan hujan deras yang mengguyur seluruh rumah baik yang terbuat dari tanah atau kulit binatang, hujan itu membasuh bumi sehingga ia seperti cermin yang berkilauan, kemudian dikatakan kepada bumi, ‘Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalikan barokahmu’. Pada hari itu sekelompok manusia memakan satu buah delima dan memakai kulitnya sebagai topi. Air susu diberkahi sehingga seekor onta muda cukup memenuhi kebutuhan banyak orang dan seekor sapi muda cukup memenuhi kebutuhan satu kabilah serta seekor kambing muda cukup memenuhi kebutuhan satu keluarga besar.”
Dalam hadits Abu Umamah yang panjang Rasulullah saw bersabda, “…lalu Isa bin Maryam turun pada umatku sebagai hakim yang adil dan imam yang bijaksana, dia menghancurkan salib, mematikan babi, menghapus jizyah, membiarkan sedekah kambing dan onta tidak ada yag mau menerima, kebencian dan permsuhan dihapuskan. Binatang beracun ditarik racunnya sehingga seorang bocah memasukkan tangannya ke dalam mulut ular dan itu tidak membahayakan dirinya, seorang bocah perempuan melewati singa tetapi singa itu tidak mengganggunya, srigala berada di antara kambing seperti anjing yang menjaganya. Bumi dipenuhi keselamatan seperti bejana dipenuhi oleh air. Kalimat manusia menjadi satu. Tidak ada yang disembah kecuali Allah, perang dihentikan, orang-orang Quraisy kehilangan kerajaannya. Bumi seperti piring besar dari perak, ia menumbuhkan pohon-pohon dengan janji Adam sehingga beberapa orang memakan setangkai anggur dan mereka kenyang, dan beberapa orang memakan satu buah delima dan mereka kenyang. Sapi jantan harganya segini-segini. Sementara kuda hanya dengan beberapa keping dirham….” (HR. Ibnu Majah no. 4128. dan al-Hakim 4/436-437, dia menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi).
Dari pembahasan yang kami paparkan tentang Masihul Huda bin Maryam tentunya pembaca mengetahui bahwa dalil-dalil tentang turunnya Isa baik dari al-Qur’an maupun sunnah telah mencapai tingkatan mutawatir dan bahwa ini adalah kesepakatan umat dari mulai zaman Nabi saw sampai hari ini, merujuk kepada tafsir dari firman Allah SWT,
“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisa’: 159).
Inilah yang dinyatakan oleh para ahli tafsir secara keseluruhan, lalu mereka menyebutkan hadis-hadis mutawatir itu di bawah ayat ini, lebih-lebih hadits Abu Hurairah yang marfu’ dan mauquf, di mana dia berkata setelah menyinggung turunnya Isa bin Maryam dengan ditegaskan oleh sumpahnya, “Bacalah jika kalian mau ayat, ‘Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya’.” Jadi mengingkari turunnya Isa di akhir zaman sama dengan mengingkari al-Qur`an, sunnah yang shahih dan ijma’ umat.
f.       Yajuj dan Majuj

Di antara tanda Kiamat kubro adalah keluarnya Ya’juj Ma’juj dari kurungannya. Keluarnya mereka sebagai tanda Kiamat kubro wajib kita imani karena dalil-dalil menetapkannya.

Firman Allah, “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.” (Al-Anbiya’: 96-97).

           Keluarnya mereka adalah keburukan yang dekat yang telah diperingatkan oleh Rasulullah saw :
عَنْ زَيْنَبَ اِبْنَةِ جَحْشٍ رضي الله عنها : أَنْ النّبِي صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَليْهَا فَزِعًا يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاّ اللهُ ، وَيْلٌ للْعَرَبِ مِنْ شَرِّ قَدْ اقْتَرَبَ ، فُتِحَ اليَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبِعِهِ الإِبْهَامِ وَالّتِي تَلِيْهَا .
Dari Zaenab binti Jahsy bahwa Nabi datang kepadanya dengan tergopoh-gopoh. Beliau bersabda, “La ilaha illallah, celaka orang-orang Arab dari keburukan yang telah dekat, pada hari ini benteng Ya’juj Ma’juj dibuka seperti ini.” Rasulullah melingkarkan ibu jarinya dengan jari telunjuknya. (Muttafaq alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1341, Mukhtashar Shahih Muslim no. 1987).
Dalam surat al-Kahfi Allah menjelaskan bahwa Ya’juj Ma’juj dikurung oleh Dzulkarnain dengan baja karena mereka berbuat rusak di bumi sehingga mereka tidak keluar darinya sampai tiba saatnya janji Allah.
Firman Allah :“Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, ‘Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.’ Dzulkarnain berkata, ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah Aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain, ‘Tiuplah (api itu)’, hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata, ‘Berilah Aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Dzulkarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar" (Al-Kahfi: 93-98).

Lalu siapakah mereka itu?
Nama Ya’juj Ma’juj, ada yang berkata, ia bukan nama Arab, ada yang berkata, ia adalah nama Arab, diambil dari ajijun nar yang berarti bergolaknya api, atau dari al-Ajj yang berarti air asin. Apapun begitulah nama mereka yang tercantum di dalam al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi. Mereka adalah sekelompok umat dari Bani Adam, jumlah mereka sangatlah besar.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri dari Nabi saw bersabda, Allah Taala berfirman, “Wahai Adam.” Adam menjawab, “Aku penuhi panggilanMu dengan suka cita dan kebaikan berada di tanganMu.” Allah Taala berfirman, “Keluarkan rombongan neraka.” Adam bertanya, “Apa rombongan neraka?” Allah berfirman, “Sembilan ratus sembilan puluh sembilan dari tiap-tiap seribu.” Pada saat itu anak kecil beruban, wanita hamil meletakkan kehamilannya dan kamu melihat manusia mabuk dan mereka tidak mabuk akan tetapi azab Allah sangat keras. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, siapa dari kami yang menjadi satu itu?” Nabi saw menjawab,”Bergembiralah kalian, karena satu orang dari kalian, sementara seribu dari Ya’juj dan Ma’juj.” (Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1342).
Mengenai ciri-ciri mereka terdapat sebuah hadits di Musnad Imam Ahmad (5/271), al-Haetsami di Majmauz Zawaid (8/9) berkata tentangnya, “Rawi-rawinya adalah rawi-rawi ash-Shahih.” Hadits tersebut menjelaskan bahwa mereka berwajah lebar seperti tameng yang menonjol dengan rambut merah kecoklatan, mata sipit, datang dengan cepat dari tempat yang tinggi.
Di atas telah disebutkan bahwa Ya’juj Ma’juj dikurung dengan baja oleh Dzulkarnain, mereka tidak akan keluar darinya sebelum janji Allah tiba, dan itu terjadi di akhir zaman sebagai tanda Kiamat yang sudah diambang pintu. Mereka keluar setelah Isa turun dan membunuh Dajjal. Keluarnya mereka dari kurungan memiliki cerita tersendiri yang disebutkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam hadits no 3153 dan Ibnu Majah no. 4131 dari Abu Hurairah, dan dishahihkan oleh al-Albani di Silsilah Shahihah no. 1735. Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj membongkarnya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari. Pemimpin mereka berkata, ‘Kita pulang, kita teruskan besok’. Lalu Allah mengembalikannya lebih kuat dari sebelumnya. Ketika masa mereka telah tiba dan Allah ingin mengeluarkan mereka kepada manusia, mereka menggali, ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, pemimpin mereka berkata, ‘Kita pulang, kita teruskan besok insya Allah Taala’. Mereka mengucapkan insya Allah. Mereka kembali ke tempat mereka menggali, mereka mendapatkan galian seperti kemarin. Akhirnya mereka berhasil menggali dan keluar kepada manusia. Mereka meminum air sampai kering dan orang-orang berlindung di benteng mereka. Lalu mereka melemparkan panah-panah mereka ke langit dan ia kembali dengan berlumuran darah. Mereka berkata, ‘Kita telah mengalahkan penduduk bumi dan mengungguli penghuni langit.”

Pembicaraan tentang Ya’juj Ma’juj ini penulis tutup dengan sebuah hadits an-Nawas bin Sam’an di Shahih Muslim (Mukhtashar Shahih Muslim no. 2048). Dari hadits ini kita mengetahui banyak hal tentangnya.
Rasulullah bersabda : “Ketika Isa dalam kondisi demikian, Allah mewahyukan kepada Isa bin Maryam, ‘Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hambaKu, tak seorang pun mampu memerangi mereka, maka bawalah hamba-hamba-Ku berlindung di At-Thur’. Lalu Allah mengeluarkan Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka mengalir dari segala penjuru. Rombongan pertama melewati danau Thabariyah dan meminum airnya. Rombongan terakhir menyusul sementara air danau telah mengering, mereka berkata, ‘Sepertinya dulu di sini pernah ada air’. Nabi Isa AS dan teman-temannya dikepung sehingga kepala sapi bagi mereka lebih berharga daripada 100 dinar, lalu Nabi Isa AS dan kawan-kawan berdoa kepada Allah. Lalu Allah mengirim ulat di leher mereka, maka mereka mati bergelimpangan seperti matinya jiwa yang satu. Kemudian Allah menurunkan Nabi Isa dan kawan-kawannya ke bumi, maka tidak ada sejengkal tempat pun di bumi kecuali dipenuhi oleh bau busuk mereka. Lalu Nabiyullah Isa AS dan teman-temannya berdoa kepada Allah, kemudian Allah menurunkan hujan deras yang mengguyur seluruh rumah, baik yang terbuat dari tanah atau kulit binatang. Hujan itu membasuh bumi sehingga ia seperti cermin yang berkilauan.”
g-i. Tiga Gerhana :  di Timur, di Barat, dan di Jazirah Arab
j. Api Menggiring Manusia ke Mahsyar
Tanda Kiamat kubro yang terakhir yang muncul sebelum terjadinya Kiamat adalah munculnya api dari ‘Adn yang mengelilingi manusia dari belakang mereka, ia menggiring manusia dari segala arah ke bumi Mahsyar yaitu Syam. Manusia pada hari itu terbagi menjadi tiga kelompok: Ada kelompok yang digiring dalam keadaan berharap dan cemas serta berkendara. Ada kelompok yang kadang-kadang berjalan dan kadang-kadang berkendaraan, saling bergiliran mengendarai unta. Dan yang ketiga adalah manusia-manusia lainnya, di mana mereka digiring oleh api tersebut, barangsiapa lambat niscaya dia disambar oleh api. Orang terakhir yang digiring adalah dua orang penggembala dari suku Muzaenah, di mana keduanya menggiring kambing-kambing mereka, lalu keduanya melewati Tsaniyatul Wada’ di Madinah, keduanya keluar tetapi keduanya langsung tersungkur tatkala mendengar tiupan sangkakala Kiamat.
Dalil-dalil tanda Kiamat kubro ini adalah hadits shahih di mana Rasulullah saw menyebutkan tanda Kiamat, “…dan yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman menggiring manusia ke padang Mahsyar.” Dalam riwayat, “Ia keluar dari dasar Adn.” Dalam riwayat, “…dan yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman dari dasar Adn menggiring manusia ke Padang Mahsyar.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah saw bersabda, “Akan keluar api dari arah Hadramaut atau dari Hadramaut sebelum Kiamat yang menggiring manusia.” Kami bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi saw bersabda, “Pergilah ke Syam.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dishahihkan oleh Ibnu Hibban nomor 2312)

Bagaimana Api Menggiring Manusia?
Nabi saw telah memberitahukan kepada kita bahwa penggiringan ini berbentuk tiga:
Pertama : Orang-orang yang digiring dalam keadaan berharap dan cemas berkendaraan.
Kedua: Orang-orang kadang-kadang berjalan, dan kadang-kadang mengendarai unta saling bergiliran.
Ketiga: Orang-orang yang digiring oleh api, ia mengelilingi dan menggiring mereka dari segala sisi ke bumi Mahsyar. Dan barangsiapa tertinggal maka ia dimakan api.

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Manusia digiring dalam tiga keadaan: Dalam keadaan berharap dan cemas, dua orang mengendarai satu unta secara bergiliran, tiga orang secara bergiliran, empat orang secara bergiliran dan sepuluh orang secara bergiliran. Dan yang lain digiring oleh api, api itu beristirahat di siang hari di mana mereka beristirahat, menginap di mana mereka menginap, mendapatkan pagi hari di mana mereka mendapatkan pagi hari dan mendapatkan sore hari di mana mereka mendapatkan sore hari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Para ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya penggiringan api kepada manusia. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu terjadi pada Hari Kiamat. Ini adalah pendapat At-Thibi, Al-Hulaimi, Al-Baihaqi dan Abu Hamid Al-Ghazali, mereka berdalil kepada kata ‘hasyr’ yang disebut tanpa embel-embel, maka ia menunjukkan hasyr (kebangkitan) dari kubur secara syar’i. Jadi menurut pendapat ini keluarnya api ini bukan termasuk tanda kiamat.
Al-Khattabi, Qadhi Iyadh, Qurtubi, Ibnu Katsir dan lain-lainnya berpendapat bahwa hal itu terjadi di dunia di akhir zaman sebelum Kiamat terjadi. Dalil mereka adalah hadis Abu Hurairah di atas. Di mana api berhenti bersama mereka di siang hari, bermalam, menemui pagi dan petang.
Hafizh Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadits-haditsnya berkata, “Redaksi hadits-hadits menunjukkan bahwa hasry (penggiringan) ini adalah penggiringan orang-orang yang ada di penghujung dunia dari segala penjuru tempat berkumpul yaitu bumi Syam dan manusia pada saat itu terbagi menjadi tiga kelompok. Semua itu menunjukkan bahwa hal itu terjadi di akhir dunia, di mana ada berkendaraan di atas punggung unta dan lain-lainnya, juga orang-orang yang terlambat akan dimakan api. Kalau hal ini terjadi setelah tiupan kebangkitan manusia dari kubur niscaya tidak ada lagi kematian, hewan yang dikendarai, makan, minum dan berpakaian di Padang Mahsyar Kiamat. ….” (Al-Fitan wa al-Malahim 1/287).
Hafizh Ibnu Hajar, setelah beliau menelaah seluruh dalil, beliau memilih pendapat yang menyatakan bahwa hal itu terjadi di dunia karena di dalam hadistnya terdapat keterangan bahwa kendaraan berkurang karena terjangkit penyakit dan bahwa seseorang membeli seekor unta muda di kebun yang indah. Hal ini sangatlah jelas bahwa itu adalah kehidupan dunia. (Fath al-Bari 11/378)
Bumi Syam adalah tempat di mana api menggiring manusia ke sana
Nabi saw telah menyampaikan bahwa bumi di mana api ini menggiring manusia ke sana adalah bumi Syam. Dalam hadits shahih dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya berkata, Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kalian akan digiring dalam keadaan berjalan kaki dan berkendara, dan kalian akan menghadapkan wajah kalian ke sini.” Lalu beliau menunjuk arah Syam (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, sanadnya dukuatkan oleh Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari 11/380)
Dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata, “Niscaya akan datang kepada manusia suatu masa di mana tidak tersisa seorang mukmin pun di bumi kecuali dia pindah ke Syam.” (HR. al-Hakim secara mauquf, dia berkata, “Shahih diatas syarat asy-Syaikhain.” Dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
Orang terakhir yang digiring oleh api
Orang terakhir yang digiring oleh api adalah dua orang penggembala dari suku Muzaenah sebagaimana yang tertulis dalam hadits shahih dari Abu Hurairah berkata, Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang meninggalkan Madinah dalam keadaan baik seperti sediakala, ia tidak dihuni kecuali oleh binatang-binatang dan burung-burung yang buas, maka orang terakhir yang digiring adalah dua orang penggembala dari Muzaenah. Keduanya ingin ke Madinah sambil menggiring domba-domba mereka. Maka keduanya mendapati Madinah telah dipenuhi oleh binatang buas sehingga ketika keduanya sampai di Tsaniyatul Wada’ keduanya tersungkur.” Dalam riwayat lain, “Sungguh Madinah akan ditinggalkan oleh penduduknya dalam keadaan baik seperti semula sebagai tempat yang nyaman bagi binatang-binatang buas.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Yang dimaksud oleh hadits ini adalah bahwa Madinah di akhir zaman tidak lagi terjaga dan terlindungi. Maka ia dihuni oleh binatang-binatang buas karena ditinggal oleh penduduknya yang digiring oleh api ke bumi Mahsyar yaitu Syam. 

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar